Kiki's photo album

Kamis, 13 September 2012

Wet & Rinse Indochina Trip (part1)



HCMC City Hall
Vietnam merupakan kota yang ramah untuk para traveler, karena biaya hidup di sana murah, baik untuk kuliner, sewa penginapan dan transportasi. Kata orang-orang sih bangunan tua dan bersejarah di Ho Chi Minh City / Saigon mirip seperti kota-kota tua di Eropa sana, ya wajar saja sih karena pernah jadi negara jajahan Prancis. Kesan yang saya tangkap selama di  Saigon adalah banyak anak muda di sana yang lancar berbahasa Inggris, sehingga saya merasa terbantu ketika hendak berbelanja, karena beberapa kali dibantu untuk menerjemahkan dengan bahasa lokal. 

Rumah di sana rata-rata bentuknya seperti ruko, bangunan bertingkat yang kecil dan memanjang ke atas. Katanya sih harga tanah mahal, seperti juga layaknya harga mobil. Untuk transportasi, motor yang jadi raja jalanan. Kemanapun kita melangkah , jutaan motor yang terlihat. Bahkan ada jalur khusus motor. Kalau mau menyebrang di jalanan kota Saigon, jangan takut oleh motor yang lalu lalang, berjalanlah secepat mungkin, motor itu tidak akan berani menabrak, malah mereka yang takut kalo sampai nabrak orang.

Menurut saya dan teman-teman, di antara negara asean lainnya,  orang-orang Vietnam itu yang paling cantik dan ganteng (survei membuktikan). Sedangkan orang-orang Kamboja manis-manis kaya mbak-mbak dan mas-mas Jawa. Saking kecenya mereka bahkan naik motor tanpa jaket dan helm full face. Badan perempuan juga rata-rata kecil-kecil, sehingga fit in dalam balutan pakaian tradisional mereka.

million motorcycle in HCMC street
Sayangnya ketika berkunjung ke sana sedang musim hujan dengan curah hujan yang sangat tinggi, jadinya ke mana-mana pakai jas hujan. Tapi enaknya jadi adem, nggak kepanasan selama jalan kaki  keliling kota HCMC. Tata kotanya sangat baik, jalanan yang bersih, taman yang hijau benar-benar kota yang nyaman untuk berjalan kaki.

Itinerary selama 7 hari keliling Indochina adalah sebagai berikut :

Day 1st, Ho Chi Minh City, Vietnam. 
Day 2nd, 1 day Mekong river tour ( My Tho - Ben Tre ), Ben Thanh night market. 
Day 3rd, Ho Chi Minh City National museum, HCMC church, HCMC city tour, Reunification palace, City Hall, Notre Dame Cathedral, watch Vietnam Water Puppet Show. 
Otw to Cambodia by bus from 11.30 PM until 17.30 the next day (Day 4th). Watch Apsara show at Siem Reap. 
Day 5th, Angkor Wat tour, Siem Reap. 
Day 6th, morning market at Siem Reap. Back to Phnom Penh. Phnom Penh City tour. Night market @Phnom Penh. 
Day 7th, King's palace @Phnom Penh, Phnom Penh musium, back to Indonesia.

Selama di Vietnam jangan mengeluarkan kamera di tengah karena saya pernah sekali diingatkan oleh polisi muda yang ganteng ketika sedang menyebrang. Tas juga harus dijaga dengan baik. Karena banyak jambret naik motor. Jadi mesti lebih hati-hati.

Day 1st, Ho Chi Minh City, Vietnam. 

 Ho Chi Minh City tallest skyscraper 
Kami sampai Ho Chi Minh City malam hari, langsung dijemput oleh mobil dari penginapan dan diantar ke penginapan NGUYEN KHANG HOTEL , di Distrik 1, yang merupakan pusat para bacpacker/ traveler. Hotel tersebut lumayan bagus dan bersih, highly recommended.Setelah check in kami langsung berjalan-jalan malam, mencari makan dan menikmati suasana malam di Ho Chi Minh. Harga buah di sana cukup murah, dan rasanya benar-benar manis dan menyegarkan. Seperti buah-buahan khas Thailand. Jadi kalo ke sana jangan lupa beli buah lokal di pinggir jalan ya. 

Day 2nd, 1 day Mekong river tour ( My Tho - Ben Tre ), Ben Thanh night market. 

French breakfast

Hari kedua kami ikut tur  ke delta sungai Mekong, yaitu  ke My Tho - Ben Tre tour : 210.000 VND/person. Pagi hari setelah sarapan ala Prancis, kami dijemput oleh pemandu tur-nya yaitu Tiger, lalu menuju bis. Penumpang di dalam bis terdiri dari beberapa bule dan kami 3 orang asia. Sambil menunggu bis berangkat, ada pedagang keliling yang jual makanan seperti semacam gemblong khas Vietnam, tapi pake wijen. rasanya cukup enak, cuma harganya lumayan mahal, kalo dirupiahin sekitar Rp 10,000.-  (buat bekal di jalan). Perjalanan dari HCMC ke delta sungai Mekong kurang lebih 2 jam perjalanan. selama di dalam bis, si Tiger banyak cerita mengenai jalan yang dilewati dan  kehidupan orang-orang di Vietnam.






Sampai di delta sungai Mekong, kami naik perahu ke  My Tho. Lagi-lagi isi perahu kebanyakan orang bule, hanya kami dan sepasang suami istri yang ternyata orang Filipina yang akhirnya menjadi dekat dengan kami selama tur, diantara para bule-bule yang mungkin seumur hidupnya belum pernah lihat rambutan, pohon pisang dan pohon kelapa.






Di My Tho kami naik perahu nelayan kecil, dan memakai caping khas petani. Kalau kata teman kantor saya yang lihat fotonya , "inimah di Jawa juga banyak". Cuma pihak pemerintah sana lebih pintar mengemas wisata perahu ini jadi bagian dari daya tarik tourism sungai Mekong. Kalau saya sih jadi inget film-film perang Tour of Duty, setelah merasakan sensasi berperahu di Mekong. Saya merasa seperti cewek-cewek lokal yang eksotis pake caping naik perahu, tiba-tiba menyembunyikan senapan laras panjang di perahunya dan menembaki tentara Amerika... (menghayal tingkat dewa).

Wisata di My Tho dan Ben Tre, tentu saja melihat peternakan lebah madu, pohon pisang dan proses pembuatan santan kelapa. Kami dan pasangan dari Filipin langsung melipir ke belakang para bule yang menonton pertunjukan cara memerah santan dari kelapa, dan tertawa-tawa lalu bertukar cerita bahwa di Manila sana mereka juga menggunakan santan untuk memasak, hingga memakai daun pandan untuk menanak nasi hingga wangi.

Selesai tur sungai mekong kami kembali ke penginapan. Malam hari kami ke Ben Thanh night market, sampai di sana ternyata bertemu lagi dengan pasangan ramah dari Manila, mereka sewa motor keliling HCMC. Dan katanya agak kagok juga dengan budaya orang Vietnam yang naik motor nggak pake rem.

Day 3rd, Ho Chi Minh City National museum, HCMC church, Reunification palace, City Hall, Notre Dame Cathedral, watch Vietnam Water Puppet Show.

Kami makan siang di The famous Pho 2000, with beef meat. Quite cheap, around 45,000 Dong (25 rebu rupiah -an kira2). Hari ke 3. HCMC city tour dengan berjalan kaki. Masuk ke dalam musium HCMC yang menceritakan sejarah Vietnam.
    Tiket Musium HCMC : 15.000 dong.  Lalu melewati City Hall yang cantik  dan Notre Dame katedral  yang merupakan simbol kota HCMC sambil hujan-hujanan. Karena waktu sudah kesorean kami tidak masuk ke dalam Reunification palace.
Pho 2000 owner with Bill Clinton

Pho 2000

Reunification palace


in front of  Reunification palace




                                    
The history of Saigon city's name @HCMC National Museum
Menjelang sore kami sempatkan menonton water puppet show Vietnam yang bercerita tentang kehidupan masyarakat di delta sungai Mekong (terus terang karena basah kehujanan dan capek jalan kaki seharian, malah sempet ketiduran). Lalu malam hari kami bertemu dengan native, temannya teman yang bekerja di Kedutaan Amerika cabang HCMC (eh malah ditraktir makan malam yey).

Pulang ke hotel kami check out , lalu naik bis malam ke Siem Reap, Kamboja. Night bus from Vietnam - Siem Reap.




TO BE CONTINUED.......

Selasa, 11 September 2012

Less than 24 hours in Ujung Genteng


Pangumbahan beach

                                              
                                                           Hanya 24 jam di Ujung Genteng

Weekend getaway akhir libur lebaran kemarin, kami para pecinta wisata kuliner dan jalan-jalan , berakhir pekan di Ujung Genteng , Jawa Barat.

Perjalanan ke Ujung genteng dari Jakarta cukup lancar, aksesnya lumayan bagus, tidak seperti yang saya perkirakan sebelumnya, karena banyak yang bilang akses jalan raya ke sana cukup parah.Berangkat Jum'at jam 8 malam, dengan rute ke UG : Jakarta - Cibadak - Pelabuhan Ratu - Surade - Ujung Genteng. Kami sempat berhenti sebentar setelah melewati Cibadak, untuk meluruskan kaki dan mencari toilet. Rupanya hawa di luar sangat dingin, katanya sih anginnya dingin karena hembusan angin dari Australia yang terasa sampai Ujung Genteng. Selidik punya selidik, rupanya Ujung Genteng dekat dengan pulau Christmas yang termasuk teritorial negara Australia  Jadi lebih baik membawa baju penghangat untuk penangkal hawa dingin.

Kami sampai penginapan di pondok Hexa jam 3 pagi. Dikarenakan bungalow yang kami book baru kosong jam 12 siang keesokan harinya, maka untuk sementara kami diinapkan di kamar kosong yang ada.

Pondok Hexa berada di pesisir pantai Ujung Genteng, ditengah-tengah sejumlah objek wisata yang akan kita kunjungi disepanjang pantai Ujung Genteng, untuk melihat sunrise, dan pantai Pangumbahan untuk melihat penangkaran penyu dan sunset. Kecuali Curug Cikaso yang jaraknya agak jauh, kira - kira satu jam perjalanan dari pantai Ujung Genteng (satu jam di daerah itu artinya benar-benar jauh jaraknya, bukan satu jam ala Jakarta yang banyak macetnya). Rencananya sih paginya mau mengejar sunrise, namun apa daya karena terlalu letih perjalanan selama 8 jam di mobil, kami semua bangun kesiangan. 

Cikaso waterfall port

dry waterfall

















Siang harinya kami menuju curug/air terjun Cikaso yang letaknya kurang lebih sejam perjalanan dari penginapan. Air sungai yang berwarna kehijauan mengingatkan saya kepada air sungai di Green Canyon. Sewa perahu kecil Rp 50,000.- (yang ternyata harusnya Rp 30,000.- saja), untuk kapasitas 10 -12 orang, menuju air terjun Cikaso. Sayangnya kata tukang perahu, saat itu sedang musim kemarau karena sudah lama tidak turun hujan sehingga air terjunnya kering, gagal deh rencana main air. Namun ternyata curug Cikaso tersebut masih layak dikunjungi karena kita malah bisa tidur-tiduran di atas batu putih dengan latar belakang air sungai kehijauan yang warnanya sangat indah.

Selesai berpanas-panas ria naik turun perahu di curug Cikaso, untuk melepas  dahaga bisa  minum es kelapa muda yang menyegarkan  dari batoknya di warung terdekat, dengan harga Rp 5,000/butir.

Sesudah makan siang dengan menu sea food yang enak dekat penginapan, dengan men-skip pantai ombak tujuh di mana merupakan lokasi surfing terbaik di Ujung Genteng karena kejauhan, kami check in dulu. Menunggu sore untuk melihat sunset di pantai Pangumbahan yang merupakan lokasi konservasi penangkaran penyu. 






Letak pantai Pangumbahan kurang lebih 30 menit perjalanan dengan kendaraan dari pondok Hexa. Cuma dikarenakan banyaknya turis domestik yang juga ingin menikmati sunset di Pangumbahan, menyebabkan lalu lintas menuju ke sana cukup macet. Karena akses jalan berpasir dan kecil, sehingga menghambat kecepatan mobil. Setiba di pantai, semua orang berdiri di belakang tali rafia yang dipasang oleh petugas pelepas tukik, supaya tertib, dan tidak menghalangi jalannya tukik yang akan dilepas ke bibir pantai. Melepas tukik yang sudah siap umur untuk dilepas ke lautan lepas, dengan diiringi pemandangan sunset bak lukisan alami yang sungguh indah di pantai Pangumbahan, benar - benar merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Sayangnya karena keterbatasan waktu , hari minggu pagi kami sudah harus pulang ke Jakarta. Berangkat jam 03.30 pagi, sampai tol Jagorawi jam 09.00 pagi, hanya 5 jam perjalanan saking ngebutnya.Kalau mau puas mengelilingi semua tempat wisata di Ujung Genteng, minimal harus punya waktu seminggu di sana.

                                                   Less than 24 hours in Ujung Genteng

Eid Mubarak holiday weekend getaway, we went to Ujung Genteng, West Java. The journey  from Jakarta to Ujung genteng quite smoothly, the access pretty good, not as I thought before, like many other said. Start at 8 PM on friday, the route : Jakarta - Cibadak - Pelabuhan Ratu  - Surade - Ujung Genteng. We had stopped after passing Cibadak, to stretch our legs and looking for toilet. Unfortunately the weather outside was very cold, the wind was cold because it came from Australia. Apparently Ujung Genteng close enough to Christmas Island which is  in Australia territorial, so better bring warm clothes
.

We reached Hexa lodge at 3 o'clock in the morning. Hexa lodge is located at the Ujung Genteng beach, in the midst of a number of attractions that we visited along Ujung Genteng beach, where to see sunrise, and the  Pangumbahan beach to see turtle hatchery and see sunset, unless curug Cikaso that about an hour's drive from the Ujung Genteng beach. Our plan is to pursue sunrise morning, but being too tired traveling for 8 hours in the car, we all got up late. That day we headed to Cikaso waterfall which is located approximately an hour drive from the inn. Greenish river water reminds me of river water in Green Canyon. We rent a small boat : Rp 50,000. - (which was supposed to be Rp 30,000. - only), for a capacity of 10 -12 people, to the Cikaso waterfall. Unfortunately the boatman said, at that time was dry season, because it had not rained for quite a long time, so the waterfall went dry. But apparently Cikaso waterfall is still worth to be visited because the greenish water color is very beautiful. After a hot fun boat ride down the waterfall Cikaso, we drink a refreshing coconut ice from the shell in a stall nearby,  Rp 5,000.- / pcs.

After lunch with a delicious seafood menu, we are check in and took a rest in Hexa and waiting for the afternoon to see the sunset in the  Pangumbahan beach, which is the site of turtle conservation.  Pangumbahan beach about 30 minutes away by car from Hexa. The tourists who also want to enjoy the sunset at Pangumbahan, causing traffic jams to get there. Arrived at the beach, everyone stood behind a rope that attached by the officer, we stand there and watch the officer who hold a bucket  with turtles inside, to be released to the seashore, into the open sea. The sunset natural landscape looks like a painting, very beautiful, what unforgettable experience.

Unfortunately we had to go home to Jakarta on sunday morning. Departing at 3:30 AM, we reached Jakarta at 09.00 Am, only 5 hour drive (he drive like crazy). If you want to have more experience in Ujung Genteng, at least must stay a week there.

Selasa, 04 September 2012

Restaurant Hopping di Bandung

Birthday trip di Bandung kemarin saya dan teman-teman wisata kuliner dari restoran ke restoran (restaurant hopping). Adapun listnya sebagai berikut :

Hummingbird Restoran & Guest house


Hummingbird Restoran & Guest house adalah sebuah kafe dengan konsep restoran sekaligus penginapan yang beralamat di Jl. Progo No. 14, Bandung. Konsep desain interiornya sangat menarik, modern tapi homy. Menu yang disajikan harganya cukup bervariasi, untuk ukuran kantong budget traveler cukup mahal. Tapi bagi para pecinta kuliner, resto ini boleh jadi opsi yang menarik. Menu utamanya adalah western food, mulai dari Mushroom soup hingga Wagyu steak yang harganya sekitar Rp 126,000.- an. Sedangkan aneka minuman segar yang disajikan dalam gelas-gelas botol yang unik, harganya bervariasi sekitar Rp 25,000.-an. Buat anda yang punya budget lebih, silahkan kunjungi Hummingbird.

PS : Jangan saltum, yang makan di sini rapi jali semua penampilannya





es leci




Kuma Ramen dengan Level Pedas

Resto dengan menu ala masakan Jepang ini terletak di Jalan Cimanuk no 11a, Bandung. Menu yang tersedia dalam kedai ini terdiri dari ramen, udon, donburi (rice bowl), serta ocha yang bisa di–refill. Menurut teman yang ngajak makan di sini, kuah udon-nya rasanya lumayan mirip dengan udon di Jepang.
Harga yang ditawarkan cukup terjangkau oleh segala lapisan, berkisar antara Rp 20,000.- - Rp 23,000.-.

Yang special di resto ini adalah untuk tiap menu masakan memiliki level pedas cabai mulai dari 0 hingga sesuai dengan selera pedas konsumen. Untuk lidah saya, level 3 sudah cukup pedas. Kebetulan saat makan di sana pas dengan hari ulang tahun saya, ternyata untuk yang berulang tahun dapat makanan dan minuman gratis , tentu saja saya pilih yang paling mahal, yaitu niku udon (pedas level 2) dan minuman taro. Jadi kalau anda sedang berulang tahun dan ingin makan gratis, datang saja ke Kuma Ramen !

PS  : Jangan lupa bawa KTP ya !


Niku Udon

 

Cafe Asix Di Bandung

Cafe Asix merupakan kafe unik di Jalan Talaga Todas No 25. dengan konsep bernuansa zaman dulu. Interiornya banyak menggunakan bahan kayu. Aksesoris dan pajangannya berupa barang-barang dari zaman tahun 60-an. Seperti telefon tua, kulkas tua, mesin kasir zaman dulu seperti yang ada di film-film tahun 60-an. Dengan pencahayaan yang mendukung, semakin menambah kesan antik pada cafe ini.

Di tiap meja terdapat permainan ular tangga, catur, dan lain-lain, jadi sambil menunggu order makanan datang kita bisa main ular tangga dulu.

Menu makanannya dan minumannya bervariasi, dari makanan Indonesia, hingga western food.  Menu yang saya coba adalah Asteak, yaitu berupa steak beef yang ada gulungan sosis di dalamnya. Saos steaknya lumayan enak. Kentangnya ditaburi tepung roti menambah rasa garing. Saos salad-nya juga enak. Harga sepiring Asteak yaitu Rp 40,000. Untuk minuman saya pesan yoghurt strawberry, harganya Rp 15,000.- an, cukup kental, dan strawberry-nya berasa. Teman yang mengajak makan di sana memesan Pizza Tungku, yaitu pizza yang dimasak pakai tungku, rupanya menu andalan di kafe Asix. Pizzanya tipis dan cukup garing, rasanya lumayan enak. Overall harga makanan di sini masih menengah buat kantong budget traveler.

PS : Nggak ada tempat colokan listrik :p



Asteak

Untuk oleh-oleh bisa beli Boreo khas Bandung, yaitu roti bagelen rasa Oreo. Harga sekantong Rp 18,000.-. dijual di Pasar Baru , Bandung.

Boreo khas Bandung

PS  : Maaf kualitas foto jelek :p