Kiki's photo album

Tampilkan postingan dengan label vietnam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vietnam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2013

Wet & Rinse Indochina trip (part 2)






 

Pulang ke hotel kami check out, lalu naik bis malam ke Siem Reap, Kamboja. Ternyata malam ketika kami menyebrang perbatasan, VOA di Kamboja sudah dicabut peraturannya, sehingga harusnya kami tidak harus membayar US$ 25. Namun karena kami belum tahu apakah pada hari itu peraturannya sudah berlaku apa belum, oknum petugas travel masih tetap menarik pembayaran tersebut ketika di perbatasan. (Akhirnya teman-teman perjalanan saya yang berjuang hingga ngoto-ngototan, meminta uang kami dikembalikan karena peraturan VOA-nya sudah dicabut ketika mereka kembali ke HCMC sebelum ke Hanoi, sedangkan saya pulang ke tanah air.  Thank you guys !)

Bis sampai di perbatasan jam 5 pagi. Kami harus menunggu sampai portal jalan dibuka, dan kantor imigrasinya buka. Petugas imigrasi di Kamboja ini angker bener. Ada ibu-ibu bersasak tinggi bak ibu pejabat di Indonesia, dengan muka sterek. Saat sudah mau keluar pintu disuruh balik lagi sama dia, katanya ada stempel yang kurang, padahal yang lain nggak. Urusan stempel selesai, langsung buru-buru angkat kaki dari sana.

Keluar dari imigrasi kami menuju restoran terdekat dan sarapan di sana. Hanya di perbatasan Vietnam - Kamboja ini kita bisa melihat menu rumah makan dalam tiga mata uang sekaligus, yaitu Dong, USD dan Riel.

Kami sampai di terminal bis  Siem Reap jam 5.30 sore, berarti 14  jam di perjalanan antara HCMC - Siem Reap. Pemandangan sepanjang jalan benar-benar malesin, nggak ada pemandangan indah, hanya pemandangan banjir  di sawah dan rumah panggung yang kebanjiran karena air sungai sedang pasang.

Supir Tuk-Tuk dari Happy guest house sudah menjemput kami setiba di sana. Setelah check in kami segera bergegas menuju gedung pertunjukan untuk menonton Apsara dance show, yaitu acara pertunjukan seni budaya Kamboja berupa tari-tarian dan alat musik tradisional, yang menceritakan kehidupan sehari-hari warga Kamboja pada umumnya. Musik tradisionalnya menyerupai musik ketika zaman Gestapu gitu deh kek di film-film G30SPKI, khas negara komunis :p


Karena ternyata di mana-mana sedang banjir setinggi paha orang dewasa, akses ke mana-mana tidak bisa, kami hanya bisa pergi ke tempat di mana becak motor tidak akan mogok karena kemasukan air banjir.

Apsara dance ticket : US$ 10 include dinner











One day pass ticket of Angkor Wat : US$ 20.00














Angkor Thom

Ketika kami memasuki salah satu Wat, ada seorang pedagang lukisan yang tiba-tiba berbicara sendiri dalam aksen British yang tepat dan jelas, yang bercerita mengenai sejarah Wat tersebut tanpa kami minta. Kami hanya bisa tercengang mendengarkan dia bercerita, sudah seperti orang Inggris beneran saja aksennya.

Happy Guest House at Siem Reap  : US$ 14/night (bagi 3 orang)
Guest house nya lumayan bagus dengan ukuran tarif  segitu, kamar mandi dalam. Harga makanan di restorannya juga cukup murah.
Bus from SR to PP US$ 13


Yang saya ingat bahwa semua gorangan di kamboja pake kacang wijen, dan crunchy sekali. 
Hotel at Phnom Penh : US$ 10


Kami menyewa tuk-tuk untuk berkeliling city tour di malam hari. Rupanya supir tuk-tuknya cukup bagus bahasa Inggrisnya, sehingga dia bisa jadi guide yang baik.

Tempat perhentian pertama kami adalah Independence Monument. Sebuah monument berbentuk replika Angkor Wat yang dibangun tahun 1958 sebagai simbol kebebasan dari penjajahan Perancis tahun 1953. 


Riverfront

Kami mencari penginapan di sekitar River Front di mana merupakan daerah penginapan bagi turis, dan akses ke mana-mana bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


Wat Phnom

Psar Thmei ato lebih dikenal dengan sebutan Central Market merupakan salah satu landmark Phnom Penh yang terkenal. Disebut Centra Market karena lokasinya yang memang terletak di jantung kota Phnom Phen. Arsitektur Central Market sangat unik karena terdapat dome yang sangat besar di tengah bangunan yang dianggap merupakan salah satu dome terbesar di dunia. Barang-barang yang dijual di pasar ini cukup beragam, mulai dari souvenir traditional Cambodia, makanan, perhiasan, baju, jam, elektronik dan masih banyak lagi. Sayang karena sudah larut malam, maka waktu lewat sana marketnya sudah tutup.


Royal Palace : US$ 9.50

Saat kami datang ke royal palace rupanya sedang ada event hari raya besar di Kamboja, sehingga tiket masuk ke dalam palace naik dari US$6.25 per adult  menjadi US$ 9.50 !(garuk-garuk tembok istana).

Royal Palace
Royal palace

DI dekat musium ternyata ada warung Bali kepunyaan orang Indonesia yang suda lama tinggal di sana. Menu-menunya serba halal, dan harganya masih wajar. Rasanya juga enak, mirip dengan makanan aslinya di Indonesia, seperti nasi goreng, sop buntut, dan tongseng. Seminggu tidak ketemu masakan Indonesia selama di sana benar-benar bikin kami merindu. Highly recommended.

Taksi to PP airport : US$ 9

Kamis, 13 September 2012

Wet & Rinse Indochina Trip (part1)



HCMC City Hall
Vietnam merupakan kota yang ramah untuk para traveler, karena biaya hidup di sana murah, baik untuk kuliner, sewa penginapan dan transportasi. Kata orang-orang sih bangunan tua dan bersejarah di Ho Chi Minh City / Saigon mirip seperti kota-kota tua di Eropa sana, ya wajar saja sih karena pernah jadi negara jajahan Prancis. Kesan yang saya tangkap selama di  Saigon adalah banyak anak muda di sana yang lancar berbahasa Inggris, sehingga saya merasa terbantu ketika hendak berbelanja, karena beberapa kali dibantu untuk menerjemahkan dengan bahasa lokal. 

Rumah di sana rata-rata bentuknya seperti ruko, bangunan bertingkat yang kecil dan memanjang ke atas. Katanya sih harga tanah mahal, seperti juga layaknya harga mobil. Untuk transportasi, motor yang jadi raja jalanan. Kemanapun kita melangkah , jutaan motor yang terlihat. Bahkan ada jalur khusus motor. Kalau mau menyebrang di jalanan kota Saigon, jangan takut oleh motor yang lalu lalang, berjalanlah secepat mungkin, motor itu tidak akan berani menabrak, malah mereka yang takut kalo sampai nabrak orang.

Menurut saya dan teman-teman, di antara negara asean lainnya,  orang-orang Vietnam itu yang paling cantik dan ganteng (survei membuktikan). Sedangkan orang-orang Kamboja manis-manis kaya mbak-mbak dan mas-mas Jawa. Saking kecenya mereka bahkan naik motor tanpa jaket dan helm full face. Badan perempuan juga rata-rata kecil-kecil, sehingga fit in dalam balutan pakaian tradisional mereka.

million motorcycle in HCMC street
Sayangnya ketika berkunjung ke sana sedang musim hujan dengan curah hujan yang sangat tinggi, jadinya ke mana-mana pakai jas hujan. Tapi enaknya jadi adem, nggak kepanasan selama jalan kaki  keliling kota HCMC. Tata kotanya sangat baik, jalanan yang bersih, taman yang hijau benar-benar kota yang nyaman untuk berjalan kaki.

Itinerary selama 7 hari keliling Indochina adalah sebagai berikut :

Day 1st, Ho Chi Minh City, Vietnam. 
Day 2nd, 1 day Mekong river tour ( My Tho - Ben Tre ), Ben Thanh night market. 
Day 3rd, Ho Chi Minh City National museum, HCMC church, HCMC city tour, Reunification palace, City Hall, Notre Dame Cathedral, watch Vietnam Water Puppet Show. 
Otw to Cambodia by bus from 11.30 PM until 17.30 the next day (Day 4th). Watch Apsara show at Siem Reap. 
Day 5th, Angkor Wat tour, Siem Reap. 
Day 6th, morning market at Siem Reap. Back to Phnom Penh. Phnom Penh City tour. Night market @Phnom Penh. 
Day 7th, King's palace @Phnom Penh, Phnom Penh musium, back to Indonesia.

Selama di Vietnam jangan mengeluarkan kamera di tengah karena saya pernah sekali diingatkan oleh polisi muda yang ganteng ketika sedang menyebrang. Tas juga harus dijaga dengan baik. Karena banyak jambret naik motor. Jadi mesti lebih hati-hati.

Day 1st, Ho Chi Minh City, Vietnam. 

 Ho Chi Minh City tallest skyscraper 
Kami sampai Ho Chi Minh City malam hari, langsung dijemput oleh mobil dari penginapan dan diantar ke penginapan NGUYEN KHANG HOTEL , di Distrik 1, yang merupakan pusat para bacpacker/ traveler. Hotel tersebut lumayan bagus dan bersih, highly recommended.Setelah check in kami langsung berjalan-jalan malam, mencari makan dan menikmati suasana malam di Ho Chi Minh. Harga buah di sana cukup murah, dan rasanya benar-benar manis dan menyegarkan. Seperti buah-buahan khas Thailand. Jadi kalo ke sana jangan lupa beli buah lokal di pinggir jalan ya. 

Day 2nd, 1 day Mekong river tour ( My Tho - Ben Tre ), Ben Thanh night market. 

French breakfast

Hari kedua kami ikut tur  ke delta sungai Mekong, yaitu  ke My Tho - Ben Tre tour : 210.000 VND/person. Pagi hari setelah sarapan ala Prancis, kami dijemput oleh pemandu tur-nya yaitu Tiger, lalu menuju bis. Penumpang di dalam bis terdiri dari beberapa bule dan kami 3 orang asia. Sambil menunggu bis berangkat, ada pedagang keliling yang jual makanan seperti semacam gemblong khas Vietnam, tapi pake wijen. rasanya cukup enak, cuma harganya lumayan mahal, kalo dirupiahin sekitar Rp 10,000.-  (buat bekal di jalan). Perjalanan dari HCMC ke delta sungai Mekong kurang lebih 2 jam perjalanan. selama di dalam bis, si Tiger banyak cerita mengenai jalan yang dilewati dan  kehidupan orang-orang di Vietnam.






Sampai di delta sungai Mekong, kami naik perahu ke  My Tho. Lagi-lagi isi perahu kebanyakan orang bule, hanya kami dan sepasang suami istri yang ternyata orang Filipina yang akhirnya menjadi dekat dengan kami selama tur, diantara para bule-bule yang mungkin seumur hidupnya belum pernah lihat rambutan, pohon pisang dan pohon kelapa.






Di My Tho kami naik perahu nelayan kecil, dan memakai caping khas petani. Kalau kata teman kantor saya yang lihat fotonya , "inimah di Jawa juga banyak". Cuma pihak pemerintah sana lebih pintar mengemas wisata perahu ini jadi bagian dari daya tarik tourism sungai Mekong. Kalau saya sih jadi inget film-film perang Tour of Duty, setelah merasakan sensasi berperahu di Mekong. Saya merasa seperti cewek-cewek lokal yang eksotis pake caping naik perahu, tiba-tiba menyembunyikan senapan laras panjang di perahunya dan menembaki tentara Amerika... (menghayal tingkat dewa).

Wisata di My Tho dan Ben Tre, tentu saja melihat peternakan lebah madu, pohon pisang dan proses pembuatan santan kelapa. Kami dan pasangan dari Filipin langsung melipir ke belakang para bule yang menonton pertunjukan cara memerah santan dari kelapa, dan tertawa-tawa lalu bertukar cerita bahwa di Manila sana mereka juga menggunakan santan untuk memasak, hingga memakai daun pandan untuk menanak nasi hingga wangi.

Selesai tur sungai mekong kami kembali ke penginapan. Malam hari kami ke Ben Thanh night market, sampai di sana ternyata bertemu lagi dengan pasangan ramah dari Manila, mereka sewa motor keliling HCMC. Dan katanya agak kagok juga dengan budaya orang Vietnam yang naik motor nggak pake rem.

Day 3rd, Ho Chi Minh City National museum, HCMC church, Reunification palace, City Hall, Notre Dame Cathedral, watch Vietnam Water Puppet Show.

Kami makan siang di The famous Pho 2000, with beef meat. Quite cheap, around 45,000 Dong (25 rebu rupiah -an kira2). Hari ke 3. HCMC city tour dengan berjalan kaki. Masuk ke dalam musium HCMC yang menceritakan sejarah Vietnam.
    Tiket Musium HCMC : 15.000 dong.  Lalu melewati City Hall yang cantik  dan Notre Dame katedral  yang merupakan simbol kota HCMC sambil hujan-hujanan. Karena waktu sudah kesorean kami tidak masuk ke dalam Reunification palace.
Pho 2000 owner with Bill Clinton

Pho 2000

Reunification palace


in front of  Reunification palace




                                    
The history of Saigon city's name @HCMC National Museum
Menjelang sore kami sempatkan menonton water puppet show Vietnam yang bercerita tentang kehidupan masyarakat di delta sungai Mekong (terus terang karena basah kehujanan dan capek jalan kaki seharian, malah sempet ketiduran). Lalu malam hari kami bertemu dengan native, temannya teman yang bekerja di Kedutaan Amerika cabang HCMC (eh malah ditraktir makan malam yey).

Pulang ke hotel kami check out , lalu naik bis malam ke Siem Reap, Kamboja. Night bus from Vietnam - Siem Reap.




TO BE CONTINUED.......