Kiki's photo album

Minggu, 16 Agustus 2015

Sensasi Motor Touring di Lombok Selatan


Saya bersama 11 orang teman-teman dari komunitas jalan-jalan, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, berencana pergi ke Lombok dan  mau menghabiskan waktu selama 2 hari 3 malam di sana. Sekitar 3 tahun yang lalu saya pernah melewati Bandara Internasional Lombok ( BIL ) pada kedatangan pertama saya ke Lombok. Saat itu bandara tersebut baru dibangun. Nyaris belum ada kehidupan di sana. Bahkan pak supir pun mengeluh karena lokasi bandara yang sangt jauh dari bandara Selaparang. Tapi saat ini kawasan tersebut sudah mulai ramai. Rupanya maksud dibuatnya bandara baru di Praya adalah untuk memajukan daerah Selatan Lombok. Saat naik ke mobil jemputan dari hotel, langsung disambut oleh lagu "Lombok itu indah" yang rupanya merupakan lagu wajib di semua mobil travel di Lombok. Karena belum makan malam, kami semua kelaparan. Selesai makan langsung meluncur ke penginapan  yang berlokasi di pantai Kuta, sekitar 20 menit dari BIL. Sampai penginapan ada pembagian kamar, lalu kami langsung koordinasi untuk kepastian itinerary selama 2 hari di Lombok. Karena ingin merasakan petualangan di Lombok dengan sensasi yang berbeda, maka kami memutuskan akan menyewa  6 motor matic untuk mengunjungi pantai-pantai di sepanjang garis pantai Lombok Selatan ini. Karena kami telah mempelajari rute, keamanan dan jarak tempuhnya yang memungkinkan untuk ditempuh dengan motor. Konvoi beramai-ramai tentunya terasa lebih seru dan mengasyikkan. Malam itu juga kami langsung sewa motor di penginapan, supaya besok pagi bisa langsung berangkat tepat waktu. Kami pun segera beristirahat, menyiapkan tenaga untuk esok hari.

Keesokan harinya sehabis sarapan pagi, kami mengambil peta Lombok yang boleh diambil secara cuma-cuma di penginapan, untuk dijadikan pedoman petunjuk jalan. Setelah mengisi bensin dan angin ban motor, kami siap tempur. Berikut adalah itinerary yang sudah saya buat.

Date
Day
Time
Itinerary
11-Jan
Fri


2030
Arrival LOP

Private transfer Praya - Homestay
2359
O/N at Kuta (airport - Kuta = 20 mnt )




12-Jan
Sat
0600
Kuta beach
0700
Breakfast 
0800
Off to Mawun beach
1100
Off to Selong Belanak beach
1145
Lunch /ishoma
1500
Off to Seger beach
1800
Off to homestay




13-Jan
Sun
0700
Breakfast at hotel
0800
Off to Pink (Tangsi) & Sebui beach, Gili Petelu
1300
Off to Tanjung Ringgit
1700
Off to Segarere
1800
Off to desa Sade





Rute dari pantai Kuta menuju pantai Mawun jalanannya benar-benar off road. Ketika kami baru mulai jalan beberapa km, tiba-tiba motor yang dikendarai Felly dan Dian jatuh terguling di tanjakan yang berlubang cukup dalam, karena Felly tidak biasa mengendarai motor matic. Untungnya tidak ada yang terluka parah dan motor tidak mengalami kerusakan. Sepanjang perjalanan menuju pantai-pantai tujuan, mata kami banyak dimanjakan oleh pemandangan indah di kiri dan kanan jalan. Saking banyaknya spot yang bagus, akhirnya kami sering berhenti untuk mengambil foto.

Akhirnya sampailah kami di perhentian pertama yaitu pantai Mawun. Pantai Mawun letaknya sedikit tersembunyi. Untungnya ada papan nama yang jelas terlihat di pinggir jalan. Jalan masuknya adalah  jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh motor. Di ujung jalan sebelum bibir pantai, terlihat beberapa rumah kayu sederhana yang ada tempat parkiran motor. Pantai Mawun benar-benar pantai yang private, di sana sepi sekali, hanya ada beberapa rumah penduduk. Saat itu tidak ada pengunjung lain selain kami bersebelas.  Walau pantainya tidak terlalu luas, tetapi cukup bersih, dengan pasir pantai yang berwarna putih. Saat kami hendak berfoto bersama spanduk yang kami bawa, tragedi pun terjadi lagi. Air laut yang tadinya surut tiba-tiba datang menerjang tripod kamera andalan si Micky yang berada di tempat tinggi di bibir pantai, hingga akhirnya kameranya terjun bebas ke laut dan langsung mati total. Ketika hendak melanjutkan perjalanan ke pantai Mawi, setelah semua motor sudah berangkat, tiba-tiba Micky tidak berhasil menemukan kunci motor, karena masih galau akibat kameranya tercebur ke laut. Walhasil sempat cari-carian lumayan lama karena takutnya jatuh di pantai, namun ternyata akhirnya kuncinya ketemu di dalam tas kameranya Micky.

Kami segera melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya tragedi berikutnya terjadi lagi. Ban dalam motor Indhry dan Dita tiba-tiba kempes. Sepertinya bocor akibat jalanan yang jelek yang tidak rata. Kami sempat berhenti lama dan mencari tukang tambal ban terdekat yang tentu saja agak susah mencarinya di kampung yang sepi itu, akhirnya kami melewatkan pantai Mawi dan langsung menuju pantai Selong Belanak. Pantai Selong Belanak merupakan pantai tempat bermain surfing. Banyak peselancar lokal maupun asing yang berselancar di sana. Bentuk pantainya seperti teluk kecil, pasirnya putih dan halus. Pantainya jauh lebih luas daripada pantai Mawun, dan lebih ramai oleh pengunjung.



Perjalanan selanjutnya menuju pantai Seger.  Rute pergi ke pantai Mawun berbeda dengan rute pulangnya. Rute pulang melalui Praya yang beraspal bagus dan mulus, sehingga perjalanan menjadi lebih cepat dan lancar . Dari Kuta ke pantai Seger jaraknya dekat. Masih satu garis pantai. Pantainya seperti teluk. Di sana ada bukit yang hijau seperti bukit rumahnya Teletubbies. Kami naik ke puncak bukit untuk melihat matahari terbenam. Ternyata di balik bukit terdapat sawah di pinggir laut. Pemandangannya bagus sekali. Sayangnya saat itu cuaca berawan, sehingga tidak ada sunset. Tadinya kami mau lihat sunset di Tanjung Aan, namun karena jaraknya satu jam perjalanan dari pantai Seger, dan jalan kesana juga rusak parah, sehingga kami membatalkan perjalanan ke sana. Menjelang magrib kami pun turun dari bukit karena takut hujan dan trek-nya menjadi licin.

Karena tempat tujuan pada keesokan harinya yaitu Pink beach dan Tanjung Ringgit jaraknya lumayan jauh apabila ditempuh menggunakan sepeda motor, sehingga kami memutuskan untuk menyewa dua mobil saja. Walaupun sebetulnya kami lebih senang menikmati keindahan pemandangan alam Lombok dengan motor touring, karena lebih terasa petualangannya daripada naik mobil. Keesokan harinya setelah sarapan kami bagi 2 rombongan dalam 2 mobil. di mobil APV dengan supir namanya pak Andi, penumpangnya : Nasrul, Candra, Laili, Felly, Indhry dan saya. Di mobil kijang : Delila, Irma, Dian, Dita dan Micky. Rupanya ketika kami sebutkan Pink beach, pak Andi dan temannya tidak tahu lokasinya ada di mana. Hanya berbekal informasi bahwa Pink beach berada 1 km dari Tanjung Ringgit, karena Pink beach tidak ada di google map. Rupanya keputusan kami untuk sewa mobil sangat tepat, karena jalan menuju Tanjung Ringgit itu kurang lebih 2 jam perjalanan, dengan kondisi jalan yang sama hancurnya dengan rute ke pantai Mawun. Kalau naik motor sendiri pasti nyasar, karena jarang bertemu dengan orang yang bisa ditanya arah jalan. Kami melewati teluk Awang dimana view-nya sangat cantik, sehingga berhenti dulu untuk foto-foto.


Setelah melewati desa Jerowaru, dan bertanya kesana kemari, akhirnya ada yang tau lokasi Pink beach. Ternyata penduduk di sana menyebutnya Fink beach. Lokasinya sama dengan arah menuju Tanjung Ringgit, yang namanya lebih terkenal. Rupanya memang belum banyak orang yang tahu jalan menuju Pink beach, karena akses jalan ke sana masih jelek. Setelah nyaris putus asa karena belum menemukan penunjuk arah ke Pink beach, akhirnya kami menemukan papan penunjuk arah yang bertuliskan Fink beach. Rupanya lokasi Fink beach ini berada di balik bukit yang terjal. Akses ke sana yaitu jalanan berbatu besar-besar, benar-benar off road, namun masih bisa dilalui dengan mobil APV dan kijang sewaan kami. Fink beach rupanya warna pasirnya tidak terlalu berwarna pink ketika siang hari. Ketika sampai di pinggir pantai fink beach, saat itu ramai sekali oleh pengunjung. Bahkan ada tukang es krim yang berjualan di sana.














Sedikit kecewa dengan terlalu ramainya pengunjung sehingga pantainya tidak terasa private, saya meminta  supaya Candra menanyakan harga sewa perahu ke pulau Sebui ke tukang perahu di pinggir pantai. Setelah tercapai kesepakatan, kami segera naik boat dan 10 menit kemudian sampai di Sebui. Tapi ternyata kami sempat kecewa, Sebui tidak seperti yang saya bayangkan dari referensi yang saya baca dari blog travel seleb twitter, sepertinya lokasi yang bagusnya harus berjalan ke balik pulau dahulu. Hanya ada dermaga kecil di sana dan langsung menghadap laut dalam, alias tidak berpantai. Kami pun segera putar haluan dan mencari peruntungan siapa tahu dapat menemukan pulau yang sepi dan berpantai bagus. Perahu kami  mendekati pulau terdekat, dan rupanya kami tidak kecewa. Namanya pulau Tiga alias Gili Petelu. Pulaunya kecil sekali, dengan karang-karang yang tajam ketika diinjak oleh kaki telanjang saya. Tidak ada bangunan apapun di sana. Untungnya ada tangga naik ke atas bukit untuk naik ke atas. Adanya surga itu benar adanya. View dari puncak bukit Gili Petelu sangat cantik. Gradasi warna air laut yang biru bercampur warna koral kehijauan sungguh menyejukkan mata. Karang bolong di pinggir pantai  memecah ombak yang datang dari segala penjuru, ternyata merupakan spot yang sangat asyik untuk bermain dengan ombak. Segera saja kami semua terjun ke laut dan bercengkerama dengan ombak yang datang bergulung-gulung, namun tidak terlalu besar. Sebisa mungkin kami berenang menjauhi karang bolong karena takut terbawa ombak dan menghantam karang yang tajam. Rasanya seperti bermain di kolam ombak Atlantis di Ancol. Cuma bedanya ini di lautan lepas, bukan di kolam renang. View-nya sungguh cantik. Benar-benar seperti pulau dan pantai milik pribadi. Namun kesenangan kami harus berakhir, karena tak lama kemudian datanglah perahu lain yang mendatangi  pulau Tiga. Perahu kami segera berlabuh dan meninggalkan Gili Petelu yang indah, cantik dan eksotis.
Photo credit : Dian Maharani


Photo credit : Micky Hendrawan

















Sampai di Fink beach 10 menit kemudian, kami langsung bergegas menuju Tanjung Ringgit tanpa ganti baju lebih dahulu, karena berharap bisa berenang di sana juga. Lokasi tanjung Ringgit hanya 1 km dari Fink beach. Tanjung Ringgit merupakan Tanjung di ujung selatan Lombok, berupa tebing tinggi yang menyerupai kepala komodo, yang menjadi centre keindahan tempat ini. Dari pinggir tebing kelihatan pulau Sumbawa nun jauh di sebrang sana. Panorama tebingnya sangat indah, mirip seperti Uluwatu di Bali. Deru ombak bergulung memecah menghantam pinggir tebing. Cuma sayangnya karena sekelilingnya yang ada hanya tebing tinggi, tidak ada pantai yang landai, sehingga tidak bisa berenang di sana. Ada beberapa peninggalan zaman Jepang seperti goa Jepang dan menara pandang. Cuma karena kami sudah tidak bisa menahan rasa lapar, kami segera pergi dari sana dan mencari tempat makan di Jerowaru. Sehabis makan dan ganti baju kami melanjutkan perjalanan ke desa Sukarare, yaitu merupakan desa penenun kain Lombok. Beberapa dari kami membeli kain tenun yang cantik untuk oleh-oleh dan belajar menenun kain dan kami juga diperbolehkan mengenakan pakaian tradisional Lombok tersebut. 

Tujuan terakhir adalah desa Sade suku Sasak. Lokasinya yang berada di pinggir jalan antara BIL dan Kuta mudah sekali ditemukan. Kami mengunjungi salah satu rumah tertua di sana, dan masuk ke dalamnya dengan dipandu oleh guide lokal. Petualangan saya bersama teman-teman  di Lombok kali ini benar-benar seru, tentunya tidak akan terlupakan. Tentunya masih banyak sekali destinasi wisata menarik lainnya di pulau Lombok, sehingga menurut saya layak untuk direkomendasikan menjadi tuan rumah tempat diselenggarakannya acara World Travel Writer Gathering 2015.















Info Umum:
- Sewa Penginapan : 250K / malam
- Xtra Bed : 50K
- Transport Bandara PP : 40K/ org ( 100K/ mobil khusus antar jemput bandara)
- Sewa motor: 50K (matic/non)
- Sewa mobil : 500K (nett)
- Parkir Motor: 2K
- Sewa Perahu @ Pink Beach : 100K utk 9 org

Urunan Tim :
370K x 11 org = 4,070K
150K x 11 org = 1,650K
150K x 11 org = 1,650K
4,070K + 1,650K + 1,650= 7,370K

Sewa Penginapan:{(250K x 3 kmr x 3 mlm)+ (50K x 3 kmr x 3 mlm)+ (225K x 1 kmr x 3 mlm)}
= 3,375K (* 1kmr non tv

Transport bandara PP: 400K (2mobil, 11org)
Makmal @ bandara = 192K
Aqua 1L, 12 pcs = 60K
Sewa Motor: 50K x 6 unit = 300K
Isi Bensin + Angin: 60K + 10K = 70K
Maksi @ Selong Belanak : 173K
Parkir Motor @ Mawun, Selong, Seger : 2K x 6 x 3 = 36K ;
Makmal @ Kuta : 515K
Sewa 2 Mobil : 1,000K
Sopir 2 org : 200K (sukarela)
Minum + Snack : 78 K
Sewa Perahu : 150K
Maksi @ Minarasa : 371K
Guide Ds. Sade : 30K (sukarela)
Makmal @ Kuta : 305K
Tips Sopir ke Bandara : 50K
Sarapan @ bandara : 65K

Saldo:
7,370K - (3,375K + 400K + 192K + 60K) + (300K + 70K + 173K + 36K + 515K) + (1,000K + 200K + 78K + 150K + 371K + 30K + 305K) + ( 50K + 65K) = 0K

Total biaya per-orang : 670K

Sabtu, 18 April 2015

Jalan-jalan ke Kupang pulang-pulang masuk koran

Me and hidden beach, photo credit by Farida Fitrianing Arum

Tanggal 1 April 2015 bertepatan dengan libur Paskah, saya dan kedua teman di grup traveling waktu ke Banda Naira, yaitu Sofyan dan Dian, pergi berangkat ke Kupang. Kami naik pesawat Garuda jam 15:25 sore. Tadinya kami hendak pergi beramai-ramai delapan orang, sudah membeli tiket dari setahun yang lalu saat promosi di  Garuda travel fair, mau overland Flores, naik pesawat lagi dari Kupang ke Larantuka - Labuan Bajo. Namun pada akhirnya hanya kami bertiga yang berangkat ke Kupang. Karena keterbatasan cuti, akhirnya saya memisahkan diri dengan Sofyan dan Dian yang mau melanjutkan perjalanan ke Larantuka lalu overland Flores hingga Labuan Bajo selama selama 10 hari, saya hendak melipir ke Rote sebentar, sebelum balik ke Kupang dan akan menghabiskan waktu di Kupang saja bersama teman saya Feli yang akan menyusul saya ke Kupang pada hari Jum’at tangal 3 April. Pesawat yang kami tumpangi ini transit di Juanda, Sidoarjo, selama 25 menit, lalu melanjutkan perjalanan ke KOE (Kupang), selama 1 jam 40 menit.  Total perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Selama di pesawat saya menonton film Atambua 39 derajat celcius. Melalui film tersebut saya mencoba mengenal tempat yang akan saya datangi lebih dekat. Kami sampai di bandara El Tari Kupang pukul 21.30 WITA, 1 jam lebih maju dari waktu WIB. Ketika kami sampai bandara , listrik sempat mati sebentar, ini adalah hal yang sudah lumrah saya jumpai ketika berada di bandara di kota kecil. Sampai di bandara kami berembuk hendak bermalam di mana  dan mau ke mana sambil menunggu pagi. Tadinya kami berminat menghabiskan malam sampai pagi di tempat yang masih ramai di kota, daripada harus menyewa penginapan, karena Dian dan Sofyan harus mengejar penerbangan pukul 6 pagi ke Larantuka untuk menyaksikan prosesi acara paskah yaitu Semana Santa yang sudah mendunia, dan saya mau naik feri kapal cepat ke Rote dari pelabuhan Tenau jam 08.00, sehingga harus sampai di bandara subuh-subuh, lalu taksi akan mengantarkan saya ke pelabuhan Tenau untuk antri tiket feri (sebenarnya lebih murah naik ojek, cuma karena kepagian akhirnya meneruskan taksi yang disewa Sofyan dan Dian ke pelabuhan). Rupanya kata pak supir taksi, di sana tidak ada bisa tempat nongrong sampai pagi, yang ada nanti digerebek polisi, walah akhirnya kami urungkan niat begadang di kota. Malah tadinya kalau bisa kami mau tidur di airport saja, tapi rupanya tidak diperbolehkan menginap di airport ( Setelah beberapa hari kemudian, saya baru diberitahu kawan yang tinggal di Kupang, dia bilang bahwa di depan gerbang bandara ada pos penjagaan TNI AU yang biasa digunakan sebagai tempat bermalam oleh para turis-turis asing yang harus mengejar penerbangan subuh keesokan harinya, apalagi karena ada kawan laki-laki jadi lebih aman. Wah kalau tahu begitu lebih baik kami menginap di sana saja ya). Jarak bandara ke Kota Kupang sebenarnya tidak jauh, kurang lebih 30 menit, cuma karena hari sudah malam, dan saat itu tidak ada pilihan lain, yaitu kendaraan umum seperti angkot, apalagi ojek, akhirnya kami naik taksi minta diantar ke kota untuk mencari tempat makan malam, hati-hati tarif taksi dari bandara ke penginapan Rp 70,000, cuma kalau minta diantar ke kota taarifnya nambah lagi, jadi lebih baik deal terlebih dahulu dengan supir taksi, supaya tidak merasa ditodong. Namun sebelumnya kami minta diantar ke penginapan terdekat untuk survey tempat terlebih dahulu. Setelah googling di internet, kami mencari tempat ikan bakar di sekitar Kelapa Lima, cuma setelah sampai sana, ternyata ikan yang dijual tidak seperti kami harapkan, kayaknya bapak supir taksi salah memilih spot jualan ikan nih, apa karena kami sudah sampai kemalaman sehingga tidak ada lagi yang jualan ikan bakar ? Akhirnya kami memilih makan di warung Jawa saja, sambil membicarakan rencana kami berikutnya. Setelah berembuk, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke penginapan di dekat bandara. Lebih baik kami bermalam di sana saja, dan minta dijemput jam 04.30 pagi oleh bapak supir taksi dan minta diantar ke bandara. Keesokan paginya, tepat pukul 04.30 pagi, pak supir taksi datang menjemput kami.  Akhirnya dengan berat hati, saya dan teman-teman berpisah di bandara, dan melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Tenau, diikuti dengan tatapan aneh si supir taksi ketika saya bilang mau pergi ke Rote sendirian. ( Trip ke Rote dibicarakan di artikel yang lain).

Keesokan harinya saya kembali ke Kupang. Dari pelabuhan Tenau saya naik angkot (carter Rp 100,000), minta diantar ke Evergreen homestay (double single bed, Rp 200,000/malam) di Kuanino, di mana teman saya Feli sudah menunggu. Sampai sana sudah ada teman kerja Feli namanya Rudi, oroang Mojokerto yang sudah beberapa tahun tinggal di Kupang, dan Rico temennya, Rudi, orang Kupang asli, campuran manado. Mereka membawa motor yang biasa dipakai touring untuk kami tumpangi. Rupanya Rudi dan Rico tergabung di komunitas anak touring (Honda Mega Pro Club Kupang NTT).

sunset di Lasiana yang indah

 

 

 

 

 

 


 

 

Bermain boomerang sambil menunggu sunset di pantai Lasiana

Kami naik motor ke pantai Lasiana untuk menikmati sunset di sana. Pantai Lasiana ternyata merupakan tempat ujung rawa-rawa bermuara, di mana di sana banyak terdapat buaya muara, sehingga pengunjung pantai harus waspada apabila menjelang malam, karena buaya akan keluar dari persembunyiannya unuk mencari makan. Pantai Lasiana merupakan pantai yang cukup populer untuk menikmati sunset di Kupang. Pantainya banyak dikunjungi oleh pengunjung lokal, terutama para anak muda yang asyik bercengkrama dengan teman-temannya. Salah satu kelompok anak muda yang kami jumpai di sana adalah para  mahasiswa dari universitas Nusa Cendana yang sedang asyik bermain dengan bumerang buatan mereka sendiri yang terbuat dari plastik.

Bumerang adalah senjata lempar khas suku Aborigin dari Australia yang digunakan untuk berburu. Pemandangan ini jarang saya temui, dan saya acungi jempol untuk usaha dan ketangkasan mereka dalam bermain bumerang. Mereka berharap supaya permainan bumerang ini bisa populer dan diterima dengan baik di Kupang, syukur-syukur bisa dilombakan dan bisa diikutsertakan ke event internasional. Semoga impian mereka mereka bisa direalisasikan oleh para penggiat olahraga di Kupang ya. Sore menjelang, matahari pun mulai terbenam, para pengunjung pantai Lasiana pun asyik menikmati pertunjukan alam yang indah ini. Selepas matahari terbenam, kami pun beranjak pergi, mencari tempat makan malam. 

 


-->
Berburu kuliner di Teddy’s bar & pasar malam


Tujuan kami selanjutnya adalah Teddy’s bar, yaitu  merupakan bar pinggir laut yang katanya merupakan bar yang pertama ada di Kupang, sehingga pada akhirnya pantai tersebut lebih terkenal dengan nama pantai Teddy. Pantai Teddy atau pantai laut bar dan restoran adalah pantai dermaga tua, dengan mercusuar yang masih berfungsi. Saat ini merupakan tempat yang populer bagi turis untuk makan dan menikmati minuman digin di sana.Di sana banyak warung-warung kecil di sepanjang pantai yang menjual jagung bakar dan roti bakar,  merupakan tempat nongkrong favorit banyak orang. Biasanya kapal nelayan yang baru menangkap ikan sore hari, mendarat di pantai Teddy , menjual ikan-ikan yang dinamakan ikan sore, artinya ikan tersebut masih fresh dari laut. Ternyata si nyong Rico ini orangnya senang sekali bercerita, kami puas tertawa saat diceritakan mengenai kisa-kisah lucu dan aneh selama mereka touring di sekita Kupang & Flores. Setelah  cukup lama menghabiskan waktu di sana, kami kembali ke penginapan. Namun ketika sampai penginapan, si Feli malah dihubungi oleh temannya, yaitu Vykka yang sudah tiga bulan pindah ke Kupang dan mengajak bertemu saat itu juga. Kami dijemput ke penginapan , lalu diajak makan malam ke pasar malam. Pasar malam adalah tempat makan yang populer diantara turis dan orang lokal di Kupang. Spesialisasinya adalah ikan bakar, namun juga menjual ikan dan berbagai seafood lainnya. Lucunya kami yang baru semalam di Kupang malah lebih hapal jalan daripada yang sudah tiga bulan di Kupang. Ternyata suaminya Vykka orang Rote, namun mereka sendiri belum pernah ke sana, mereka terheran-heran mendengar cerita saya pergi ke Rote sendirian hanya untuk jalan-jalan.

-->
saya dan Rico
Uji nyali loncat dari bebatuan yang tinggi ke laguna di gua kristal



near Temau's port
jalan masuk ke gua kristal

Hari berikutnya kami mulai menjelajah di Kupang. Tujuan pertama adalah gua Kristal, lokasinya saya tidak ingat letak persisnya, pokoknya melewati pelabuhan Tenau dan kelihatan pulau Semau di sebrangnya. Menuju ke sana kami sempat melewati padang rumput dengan rumput-rumput ilalang yang menguning dan tumbuh subur, dengan latar belakan lautan yang berwarna biru. Kami datang di waktu yang tepat, yaitu sehabis musim penghujan. Sungguh pemandangan yang indah sekali.  Gua Kristal adalah sebuah gua yang gelap, curam dan treknya menurun vertical dan licin hingga ke pinggir kolam laguna yang terisi oleh air payau di dalamnya. Ketika sinar matahari masuk ke dalam ke gua, memperlihatkan airnya yang bening dan berwarna kehijauan. Makanya dinamakan gua Kristal, cuma sayang saat itu sinar matahari kurang bersinar terang. Kolamnya ternyata sangat dalam dan tak berdasar. Letak gua Kristal ini sulit ditemukan, karena tidak ada penanda jalan.  Hanya ada beberapa anak kecil yang menjaga sebuah mobil ber-plat B di tanah kosong pinggir jalan, ternyata itulah penanda gua kristal. Wah ada orang Jakarta juga nih. Jalan masuk menuju gua Kristal hanya jalan setapak yang kecil dan berbatu. Sampai di depan mulut gua, ada seorang pengunjung yang baru keluar dari mulut gua dan bilang, “sendalnya dicopot aja, karena batu-batuannya licin sekali,” nah lo. Karena saya penasaran dengan mobil plat B yang tadi, saya tanya dia darimana, ternyata mas-mas tersebut adalah orang Cibubur , dari Kupang baru mau ke Rote, wah tidak jodoh kita mas. Ternyata batu-batuan di dalam gua benar-benar licin karena tetesan air dari stalaktit gua yang vertical ini, akhirnya saya duduk merosot saja biar tidak terpeleset. Sampai di tepi kolam laguna, ternyata banyak sekali anak-anak kecil dan pengunjung yang berenang. Kami pun tidak tahan, segera ganti pakaian dan ikut nyebur ke kolam, karena sudah berkeringat dan celana kotor karena duduk merosot masuk ke gua. Saya dan Feli bahkan ikut loncat dari atas batu yang tinggi sekali (sekitar 3 meter),  ke dalam laguna air kolam. Padahal lutut rasanya lemas setengah mati karena capek sehabis merosot turun ke bawah dan memanjat ke batu yang tinggi karena mau loncat ke kolam. Saya cuma berani loncat sekali, karena sadar punya badan berat, takutnya loncatnya kurang jauh, dan malah menimpa bebatuan keras di bawah batu pijakan, bukan ke air kolam yang dalam. Namun diantara kami berempat, hanya Feli yang berani loncat dari bebatuan yang tinggi ke kolam laguna sampai tiga kali, luar biasa ! 

Tak sengaja menemukan hidden beach yang indah sekali

 

-->
hidden beach
Hidden beach ini merupakan pantai yang sangat tersembunyi, bahkan kawan kami yang sudah 24 tahun tinggal di Kupang belum pernah mengetahui keberadaan pantai ini. Kami mengetahui pantai ini dari anak-anak kecil yang menjaga motor kami di gua Kristal. Mereka bilang ada pantai yang lebih bagus dari Tablolong, dan lebih sepi. Karena penasaran, akhirnya kami putuskan untuk mampir di sana.  Agak susah menemukan tejalan masuk pantai, akhirnya kami bertanya pada setiap orang yang akhirnya kami jumpai di tempat yang sepi itu. “Hidden beach-nya ada di mana ?” tanya Rico ke anak kecil yang lewat, “Oh ke arah sana kak ! nanti cari saja jalan putih, ” dia menunjukkan jari tangannya dengan ancang-ancang memutar, alih-alih mengambil garis lurus, pasti tempatnya agak jauh. Jalan putih rupanya karena jalannya memag berwarna putih, entah dari kapur atau pasir pantai. Mungkin sengaja diwarnai putih, untuk penunjuk jalan. Akhirnya kami menemukan juga pantai yang dimaksud. Kawasan pantai ini dijaga oleh penjaga di menara pingir pantai milik perusahaan  di kawasan laut tersebut, untuk mengawasi tempat usahanya supaya tidak dicuri orang. Di bawah menara tersebut ada jalan  setapak, yaitu bebatuan karang yang tajam menuju hidden beach di balik batu karang. Ternyata pasir pantainya berwarna merah muda, seperti pink beach di Lombok dan Komodo, yang dikarenakan ada pecahan batu karang laut yang berwarna merah di sekitar pinggir pantai atau mungkin  berasal dari terumbu karang yang berwarna merah. Pantainya sepi, hanya ada kami berempat dan dua penjaga menara yang tidak beranjak dari tempatnya menjaga, makanya seperti private beach saja. Air lautnya degradasi berwarna biru muda, biru tua dan hijau, benar-benar cantik sekali. Ombaknya besar hingga menyapu bibir pantai yang berpasir kemerahan. Tentu saja kami langsung menceburkan diri ke kolam maha besar itu. Pemandangannya benar-benar indah. Semoga saja pantai ini tetap tesembunyi, semoga terhindar dari tangan-tangan jahil dan tidak bertangung jawab, yang bisa merusak keindahan dan kebersihan pantai ini. Setelah puas berenang, kami pun beranjak pergi, menuju pantai Tablolong unuk menikmati sunset di sana.

 Tidak ada ikan di Tablolong karena gerhana bulan air laut surut

 
sunset di Tablolong yang mendung
 

Sepanjang jalan menuju Tablolong, jalannya off road dan berlubang sana-sini, benar-benar tersiksa karena naik motor yang sadelnya nungging. Di kiri kanan jalan sepanjang jalan menuju pantai tersebut,  banyak terdapat botol kecil berisi sumbu obor yang siap dinyalakan. Rupanya penduduk desa sedang menyiapkan pawai paskah. Kami sempat berputar-putar mencari jalan masuk keluar kampung karena jalan utama ditutup untuk persiapan pawai. Setiba di Tablolong, Rudi langsung mencari penjual ikan, namun karena hari itu ada gerhana bulan, maka air laut surut hingga jauh sekali, sehingga nelayan tidak menangkap ikan. Wah padahal kami sudah kelaparan sekali dan membayangkan akan pesta ikan bakar setiba di sana.  Akhirnya kami menuju pantai, benar saja, air laut benar-benar surut jauh ke tengah laut. Pantas saja kami tidak dapat ikan di sini. Garis pantainya panjang dan pasir pantainya berwana putih halus. Sayang saat itu langit berawan gelap, sehingga kami tidak bisa menikmati pemandangan matahari terbenam seperti di Lasiana, namun kami menikmati bisa leyeh –leyeh bermain pasir di pantai Tablolong.
Di sana banyak pengunjung, ada sekolah mingu yang mengadakan acara berbagai macam lomba yang tampak meriah. Lalu ada beberapa turis yang tadi saya lihat waktu di gua Kristal. Semua tampak menikmati suasana yang tenang di pantai ini. Cuma sayangnya di sana kurang tersedia tempat sampah, sehingga banyak yang buang sampah sembarangan. Mungkin karena pintu masuk menuju pantai tersebut rupanya milik tanah pribadi, sehingga pemda tidak bisa berbuat banyak ? entahlah, semoga keindahan pantai Tablolong tetap terjaga. Terus terang saja, saya sangat bersyukur telah menemukan hidden beach sebelum ke Tablolong, sehingga sudah puas menikmati pantai yang indah dan bisa bermain air sepuasnya.

Kehabisan bensin di perkampungan yang sepi

--> Ketika kami dalam perjalanan pulang menuju kota, saat berada di perkampungan yang sepi, tiba-tiba motor yang dikendarai Rico dan saya menggerung keras, dan akhirnya langsung mogok seketika itu juga. Rupanya motornya boros bensin sekali. Namanya juga motor pinjaman. Ketika motor kami mogok, motor yang satu lagi, yang ditumpangi Rudi dan Feli langsung mencari pertamini yang menjual bensin eceran. Saat kami berdua menunggu di pinggir jalan, menungu bala bantuan, tiba-tiba ada motor lain yang berhenti dan menanyakan apakah motor kami mogok , dan dia mau bantu mendorong sampai menemukan tukang jual bensin. Wah benar-benar keramahan ala penduduk asli, kami bilang bahwa ada teman kami yang sedang mencari bensin. Setelah teman kami kembali membawa bensin, kami langsung bergegas kembali ke kota.


Pesta ikan bakar kerapu di Kelapa Lima


 

--> Setiba di Kota, kami langsung menuju pantai Kelapa Lima, yaitu tempat banyak yang menjual ikan dan makanan laut lainnya. Rupanya saat itu banyak yang mendirikan panggung, dan mengadakan acara kebaktian misa Paskah, sehingga kami harus memutar jalan keluar masuk komplek untuk menuju kelapa Lima. Setiba di pantai, kami langsung saja memilih ikan yang akan dibakar, dan langsung saja saya menunjuk ikan kerapu yang besar sekali, tanpa babibu dengan harga Rp 90,000.- dan minta dibakar oleh penjualnya. Tapi setelah kami selesai membayar, Rico baru bilang kalau sebenarnya harganya masih bisa ditawar lagi, yah telat. Tapi kami sudah sangat puas menikmati ikan yang besar, lezat dengan sambalnya yang pedas dan sebotol kecap manis, tanpa nasi, sambil nongkrong gelap-gelapan di pinggir pantai. Setelah menghabiskan ikan tersebut dalam sekejab saja, kami sudah merasa kenyang sekali. Saatnya kembali ke penginapan, saya benar-benar lelah karena jarang-jarang touring naik motor sport , kaki terasa pegal luar biasa.


Libur paskah tidak ada toko oleh-oleh yang buka di Kupang

-->
Keesokan harinya, saya dan Feli memutuskan untuk pergi jalan-jalan berdua saja naik angkot, karena masih merasa pegal sehabis naik motor sport seharian. Tujuan utama kami adalah mencari toko oleh-oleh. Kami menanyakan rute menuju pasar ke penjaga homestay, dan mereka bilang kalau mau naik angkot, lihat lampu berapa, maksudnya lihat angka yang terdapat di atas kap angkot tersebut nomor berapa, yang menunjukkan rute tujuan angkot. Setiba di pasar, rupanya semua toko tutup, sama sekali tidak ada yang buka. Rupanya libur paskah ini benar-benar waktu beribadah di gereja. Feli yang dititipi oleh-oleh sama temennya pun kebingungan hendak mencari di mana. Akhirnya kami putuskan untuk mencari tempat makan siang saja. Karena bingung mau makan di tempat mana yang sudah buka, akhirnya pilihan kami berdua jatuh pada restoran  Beer and Barrel Kitchen n' Lounge yang merupakan salah satu tempat nongkrong yang happening di Kupang. Syukurnya ketika kami datang, restorannya sudah buka. Ternyata tempatnya benar-benar cozy dan ambience-nya menyerupai restoran-restoran mahal yang terkenal di sekitaran Bali. Benar-benar tempat yang menyenangkan sekali, apalagi view dari meja yang kami pilih menghadap ke laut lepas yang berwarna biru, dengan pantai yang bersih, indah dan sepi.  Bakal betah berlama-lama di tempat ini seharian. Mushroom soup-nya enak sekali, saya memesan spaghetti bolognese Se’i sapi yang lezat sekali. Se’i adalah daging asap, salah satu makanan utama di Kupang, biasanya terbuat dari Se’i babi, namun yang saya makan adalah Se’i sapi. Rupanya di tempat ini sering diadakan acara konser artis-artis dari ibu kota. Setelah puas berlama-lama di sana, dengan berat hati akhirnya kami harus kembali ke penginapan. Feli hendak kembali ke Surabaya naik pesawat sore. 

 

Gong perdamaian Kupang
gong perdamaian


Sebelum pulang ke homestay, kami menyempatkan diri menuju taman Nostalgia tempat gong perdamaian Kupang yang sudah kami lewati beberapa kali. Monumen gong perdamaian yang merupakan lambang keharmonisan  antar umat beragama di Kupang, yang diresmikan oleh mantan presiden SBY, sebagai sarana persaudaraan dan pemersatu bangsa. Yang saya tahu, selain di Kupang, ada juga gong perdamaian di Ambon.

 

 

Berburu jagung bose , Se'i dan cinderamata tenun khas Kupang & Rote

 

jagung bose
se'i sapi

 

tenun Rote dan pulau sekitar Kupang

 

 

 

 

 

 


Setelah ditinggal pulang Feli, saya pun berburu makanan khas Kupang, yaitu jagung bose. Tak lengkap ke Kupang tanpa merasakan makanan khas penduduknya. Rupanya benar-benar susah mencari tempat makan halal yang menjual jagung bose. Berbekal rute jalur angkot dan nama warung makan halal yang saya dapat dari mama penjaga homestay, akhirnya sampai juga di warung makan Ma’ale, yang lokasinya berada di sebelah bengkel NSS. Warung makan tersebut berada di lantai 2, sedangkan lantai satu-nya merupakan minimarket tempat menjual makanan berupa Se’i ikan Marlin,  oleh-oleh yang dicari Feli namun tidak sempat kami makan. Jagung bose adalah jenis masakan dari jagung yang dikelupas kulit arinya menjadi bubur dengan campuran kacang-kacangan dan sayur-sayuran. Semangkuk jagung bose harganya Rp 6,000,-. Rasanya cukup sekali saja makannya, karena terasa aneh di lidah Sumatra saya. Hanya saja jagung bose ini sulit dicari, karena proses pengerjaannya yang memakan waktu lama, sehingga hanya bisa didapat di beberapa restoran mahal dan tempat makan tertentu saja. Yang penting saya sudah mencobanya, sehingga tidak penasaran lagi. Selain jagung bose, saya juga mencoba makan Se’i sapi di Ma’ale yang rasanya enak sekali, benar-benar terasa lembut daging asapnya, dan bumbunya pas sekali Kata Vykka, ada restoran yang namanya Rotterdam Steakhouse , yang daging steaknya enak sekali. Karena keterbatasan waktu, akhirnya saya tidak sempat makan di sana. 

Saya masih penasaran apakah ada toko cinderamata yang buka, akhirnya saya bertanya sana-sini , dan sampailah saya di pasar malam, yan gletaknya tidak jauh dari penginapan saya di Kuanino. Rupanya pasar tradisionalnya besar sekali, dan benar-benar ramai pada malah hari. Akhirnya ada juga satu toko cinderamata yang buka , saya membeli tenun untuk dijadikan syal dan miniatur sasando, semuanya tidak lebih dari Rp 50,000.- saja.



  
Sarapan bakso, favorit orang Kupang


Keesokan harinya, sebelum check out dari homestay, saya menyempatkan diri dengan sarapan makan bakso dekat penginapan. Entah kenapa, katanya orang Kupang senang sarapan dengan makan bakso. Dan ketika saya makan di warung bakso dekat penginapan, di sana ramai sekali dengan para karyawan yang hendak sarapan di sana. Tadinya saya pikir jangan-jangan baksonya tidak halal, rupanya dugaan saya salah. Penjual baksonya orang Jawa, dan dia menambahkan bakso daging sapi goreng yang renyah dan krispy , sehingga menambah kenikmatan pada semangkuk bakso yang sederhana namun nikmat ini.



 

 

Masuk koran Victory News karena menonton pawai paskah

peserta pawai paskah

 

I'm in local newspaper

Hari terakhir di Kupang ditutup dengan mengunjungi kantor pos untuk membeli kartu pos dan mengirimkan ke teman-teman, apa daya sampai sana kantor pos sudah tutup,  karena semua pegawai ingin juga ingin melihat pawai paskah. Akhirnya saya berjalan kaki menuju rumah gubernur untuk menonton pawai Paskah yang dilepas dari depan rumah dinas gubernur NTT, sebelum menuju bandara. Sepertinya hampir semua penduduk Kupang menjadi peserta dan penonton pawai. Semua truk-truk besar dihias dan didekorasi sedemikian rupa, sehingga menjadi “panggung” mini tempat para pemuda pemudi Kupang bernyanyi memuja sang pencipta. Atribut sponsor dari merk-merk terkenal menjadi properti truk-truk pawai tersebut. Benar-benar pesta untuk seluruh rakyat, tua dan muda semua menikmati. Ternyata ketika sedang menonton pawai, (malah lagi sibuk terima telepon urgent dari kantor minta kirim barang urgent), ketika saya lagi minggir ke pinggir jalan dari keriuhan pawai supaya bisa menerima telepon dari teman kantor, karena mengalungi DSLR Nikon kesayangan, saya malah didekati seorang wartawan koran lokal Victory News, ditanya-tanya apakah saya peserta pawai atau bukan ? apa wartawan ? saya bilang turis lokal dari Jakarta. Akhirnya malah saya diwawancara, dan artikelnya terbit 2 hari kemudian. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Pawai Paskah ini merupakan lambang keharmonisan semua penduduk yang berasal dari berbagai latar belakang agama dan suku yang berbeda. Ketika pawai, para pemuda mesjid dari GP Ansor, Muhammadiyah, turut membantu kelancaran jalannya pawai paskah ini. Ketika saya selesai menonton pawai dan hendak menuju bandara naik ojek, ternyata tukang ojeknya pernah tinggal lama di Jakarta, dan baru beberapa bulan tingal di Kupang. Banyak cerita yang menyatakan bahwa penduduk di Kupang itu ramah-ramah, dan saling membantu sesama. Karena saking kecilnya kota Kupang, rasanya semua orang saling mengenal. Ketika di jalan, si tukang ojek dipanggil oleh temannya yang ternyata teman se-gereja. Sama seperti ketika saya boncengan dengan Rico, tiba-tiba dia ngebut mengejar motor lain di depannnya yang awalnya saya kira jambret motor, ternyata temennya Rico si anak Kupang asli yang gaul. Tukang ojek pun tak kalah baik dan jujur, katanya tarif resmi ojek kota-bandara itu Rp 50,000.-, namun bapak ojek meminta Rp 40,000.-, akhirnya saya lebihkan saja menjadi Rp 50,000.-. Kota Kupang benar-benar  meninggalkan banyak cerita yang berkesan. Kurang lebih hampir seminggu di Kupang , mengunjungi banyak pantai di sana, Lasiana, Teddy’s, Tablolong, hingga hidden beach yang sangat indah, yang tak sengaja kami temukan, gua Kristal dengan laguna air payau yang tampak indah ketika terkena sinar matahari, dengan touring naik motor bersama teman-teman baru di sana, terasa sangat kurang. Ternyata pembangunan di kota Kupang lumayan maju. Hampir semua jalan diaspal mulus, membuat perjalanan menjadi nyaman. Ada Hypermart yang menjadi primadona di kota ini. Toh banyak pantai-pantai nan indah di kupang, buat apa nongkrong di mall lama-lama kaya orang Jakarta ? Mungkin penerangan jalan yang perlu ditambah, untuk menambah keamanan dan kenyamanan penduduk. Namun katanya sumber daya tenaga listrik masih kurang, sehingga pasokan listrik untuk peneragan jalan umum pun dikurangi. Tak ketinggalan teman-teman baru yang menyenangkan, yaitu Rudi seorang freelance IT di kantor pemprov Kupang dan Rico seorang anak pensiunan TNI, dengan segudang cerita yang lucu dan seru mengenai kegemaran ayahnya pada batu akik, dan ibunya yang berjiwa muda ingin ikut touring bersama kami ke gua Kristal, Vykka denga keluarga kecilnya yang lucu, serta Feli, my travelmate in crime. Kisah-kisah aneh, seru dan mistis Rudi dan Rico selama touring keliling Kupang dan Flores menambah warna pada perjalanan saya kali ini. Rudi bertanya kepada saya kenapa saya tahu banyak hal mengenai tempat tujuan di Kupang ? ya tentu saja saya sudah riset kecil-kecilan sebelumnya, banyak membaca blog travel, blog orang, karena pergi sendirian dalam waktu yang singkat perlu persiapan matang. Semoga kedamaian selalu berada di kota Kupang yang indah ini. Kupang kota Kasih, telah mendapat tempat yang istimewa di hati beta.




Yahoo 検索