Kiki's photo album

Senin, 27 Februari 2012

Let’s get lost : Japan ( Part 1 : Tokyo )

Berawal dari tiket promo Air Asia X, berlanjut beli tiket ke Haneda, Tokyo, Jepang via KL (Malaysia) pada tanggal 30 Desember 2011 - 8 Januari 2012. Tadinya saya maju mundur karena belum yakin akan dapat visa ke Jepang apa tidak, namun syukurnya last minute 4 hari sebelum Kedutaan Jepang di Jakarta libur tahun baru, visa sudah di tangan. Biaya untuk pengurusan visa di kedutaan Jepang sebesar 300 ribu rupiah. Barulah saya membeli Yen, membeli Japan Railway Pass (JR Pass) pass untuk keliling Jepang naik shinkansen (kereta super cepat) dan bis yang termasuk grup JR, selama 7 hari. Belinya di JALAN tour, Sudirman, Jakarta, seharga 28,300 JPY, kalau beli pakai rupiah atau dollar, jatuhnya lebih mahal. Tadinya mau irit di transportasi dengan naik kereta malam atau bis malam Willer saja daripada beli tiket shinkansen yang mahal, namun apa daya, jadwal itinerary saya padat, karena mengikuti jadwal teman-teman di Jepang. Maka supaya perjalanan saya lebih efektif, saya memutuskan beli JR pass untuk naik Shinkansen setelah konsultasi dengan teman-teman. Dari Indonesia saya hanya bawa bukti pembelian JR pass-nya, lalu setiba di Tokyo baru menukar bukti pembelian JR pass dengan kartu JR pass di stasiun yang ada tempat penukaran JR pass. Walau saya sampai Jepang tanggal 1 Januari dini hari, tapi baru mengaktifkan pemakaian JR pass mulai tanggal 2 Januari, supaya pas berlakunya 7 hari sampai saya meninggalkan Jepang tanggal 8 Januari. Setelah itu booking penginapan di Tokyo Kabuki guest house, Asakusa untuk semalam dan J-Hoppers Kyoto Guest House untuk semalam juga. Lalu menghubungi teman-teman kuliah di Jepang untuk memberitahukan rencana kedatangan saya, dan menginformasikan jadwal itinerary tempat-tempat yang akan dikunjungi, supaya mereka bisa meluangkan waktu menemani jalan-jalan dan meminta izin apakah boleh menginap di apartemen mereka (baca : cost down .red. ). Kata teman-teman, waktu yang terbaik pergi ke Jepang adalah pada musim dingin. Karena cuaca tidak panas menyengat, jadi tidak mudah kecapekan dan kehausan ketika jalan-jalan, tapi yang ada malah kedinginan karena turun salju. 


List bawaan selama musim dingin di Jepang
——————————————————————-
Saya berencana hanya membawa 1 back pack Eiger 40 lliter yang nantinya ditinggal di tempat menginap dan tas ransel kecil untuk dibawa jalan-jalan. Barang bawaan saya adalah sebagai berikut :
- Kamera - Mantel tebal panjang hingga selutut - Sepatu gunung ( nggak punya boots), yang penting sepatu yang cocok untuk di salju/ tidak licin
 - Syal
- Long john : baju/ celana panjang hangat untuk daleman. Untuk sementara saya beli yang terbuat dari wool di ITC Cempaka Mas. Akhirnya saya juga membeli long john heat tech di Uniqlo Bukit Bintang, Malaysia, ( di Jepang banyak tokonya) karena lebih nyaman dipakai.
- jamu tolak angin 1 dus - multivitamin
- obat flu
- obat diare
- antimo
- gembok kecil, bisa untuk kunci loker di penginapan, ataupun kunci tas
- colokan listrik universal
- copy visa / passport, lalu di email, in case kalau hilang tinggal di print aja
 - oleh-oleh kopi toraja untuk sensei orang Jepang
-oleh-oleh untuk teman-teman di Jepang. Kebetulan saya bawa pia legong dan pia susu dari Bali, boleh nitip sama teman yang pergi ke sana. Dan saya juga bawa banyak minyak angin aromatherapy yang bentuknya kecil , karena baunya tidak akan mengganggu orang di dalam kereta dan tempat umum lainnya.
- Bawa peta Tokyo dan peta jalur kereta shinkansen dan subway Tokyo (dipinjemin Fenny)
- Buku taveling di Jepang sebagai panduan
- pakaian ganti secukupnya
- daleman sekali pakai
- kartu ATM , cari ATM yang ada tulisan cirrus maestro, ATM BCA bisa untuk ambil uang di jepang
- masker untuk penahan hawa dingin
- lip balm dan cream untuk muka supaya tidak pecah-pecah karena udara dingin
 - tupperware

It’s show time, berangkatlah saya ke Kuala Lumpur pada tanggal 30 Desember. Sampai airport LCCT tengah malam, lalu tidur-tidur ayam di Mcdonald, ditemani seorang traveler yang menunggu pesawat paling pagi menuju Macau, dan saya menunggu bis paling pagi ke Kuala Lumpur beroperasi. Sesampainya di Kuala Lumpur saya segera menuju Reggae Mansion guest house, hostel ala hotel yang sangat keren. Di sana bertemu travel mate saya Nasrul, teman nge-trip waktu ke Surabaya dan Bali, yang tiba-tiba keracunan mau ikut pergi ke Jepang juga, namun kami start dari kota yang berbeda, saya dari Tokyo, dia dari Osaka, lalu kami akan bertemu lusanya di Kyoto. Setelah nitip tas dan numpang mandi, maka berangkatlah kami ke Genting. Untungnya kami sudah memesan tiket bis Go Genting PP sehari sebelumnya. Sampai Genting naik kereta gantung, lalu masuk ke dalam theme park, dan membeli tiket Genting theme park one day pass untuk in door dan out door theme park. Theme park-nya sangat besar dan luas di atas puncak gunung yang dingin karena kabut yang tebal. Anggap aja latihan sebelum merasakan salju di Jepang. Dikarenakan bertepatan dengan malam tahun baru, dan banyak orang yang tahun baruan di Genting, maka saya kami hanya dapat tiket pulang pada pukul 11 malam. Alamat tahun baruan di jalan nih. Dan rupanya ketika bis kami sampai di Kuala Lumpur, kedatangan kami disambut oleh hujan kembang api tepat pada pukul 12 malam, saat pergantian tahun, keren. Ketika menuju hostel, jalanan penuh sesak dengan orang-orang bubaran pesta kembang api entah di tanah merdeka atau di mana saya tidak tahu. Baru kali itu saya lihat orang sebanyak itu memenuhi jalanan di Kuala Lumpur. Hingga kami pun sempat diliput oleh kameramen TV lokal. Kami sampai di hostel jam 1 pagi, dan saya baru bisa check in. Kata resepsionis hostel, saya adalah tamu pertama dan tersingkat mereka di tahun 2012, karena jam 10 siang saya sudah harus check out dan mengejar flight jam 2 siang ke Tokyo. Setelah berpisah dengan travel mate saya yang menuju Osaka pagi-pagi buta, maka berangkatlah saya menuju Tokyo sendirian pukul 10 siang. Rupanya pintu pengamanan flight ke Jepang dari LCCT berlapis banyak dibandingkan flight ke negara lainnya. Karena harus melewati 3 kali pemeriksaan baggage dan dokumen.

Air Asia X ternyata ukurannya benar-benar Xtra luas. Untuk penerbangan yang lebih dari 6 jam , Air Asia X memakai pesawat yang lebih besar dan lebih nyaman. Wah di dalam pesawat banyak sekali orang Jepangnya. Bahkan ada anak bule yang duduk di depan saya yang ibunya ternyata orang Jepang, lancar sekali bicara dalam bahasa Jepang. Kecil-kecil sudah pintar ngomong Jepang. Beruntung sekali teman sebangku saya di pesawat, Andry, ternyata adalah orang Bojonegoro yang sudah 7 tahun tinggal di Jepang. Jauh-jauh ke Jepang ketemunya orang Bojonegoro juga. Lumayan ada teman ngobrol untuk membunuh waktu selama 6 jam di pesawat. Kata Andry yang sekarang lagi happening di antara anak muda Jepang adalah demam Korea. Korean boyband/ girl band, Korean dorama dan lain-lain. Wah sama aja dengan di Indonesia ya, Korea lagi booming banget. Bagus sekali strategi marketing Korea di mana-mana. 

Setelah pesawat mendarat di bandara Haneda Tokyo dan keluar dari pesawat, “Plak” tiba-tiba angin dingin menampar pipi saya. Oh inikah rasanya musim dingin di Tokyo, benar-benar dingin sekali, sudah minus derajat belum ya. Mana saljunya ? Untungnya saya sudah langsung memakai coat musim dingin yang di bawa dari Indonesia boleh dapat lungsuran dari teman. Walaupun masih memakai sendal jepit saja karena malas memakai sepatu selama 6 jam penerbangan, karena pasti nanti kakinya membengkak. Saya pun minta didampingi oleh orang Bojonegoro tersebut ketika masuk imigrasi, karena takut ditanya macam-macam yang tidak bisa saya jawab. Untungnya di imigrasi lancar, tidak ditanya macam-macam, hanya disuruh finger scan saja sama petugasnya yang cantik seperti di komik Jepang. Kurang dari 5 menit, saya sudah dapat cap di paspor. Saya menilai sebuah negara dari toilet bandaranya. Seperti yang sudah diduga, bahwa toilet di Jepang itu teramat canggih dan keren dengan berbagai tombol pilihan dengan pilihan flush yang beraneka ragam, baik untuk menyemprot bagia tubuh bawah, saluran tempat keluarnya air seni dan air besar, pilihan untuk menyiram khusus alat vital wanita, hingga tombol piihan bunyi-bunyian untuk menyamarkan suara dari perut kita yang dirasa kurang sopan bagi orang Jepang, bila terdengar oleh orang lain. Bahkan dudukan toilet pun disetel supaya suhunya tetap hangat pada musim dingin seperti ini. Tapi ternyata di bandara juga ada toilet jongkok yang diperuntukkan bagi orang tua yang mungkin lebih nyaman menggunakan toilet jongkok yang bentuknya hampir sama dengan toilet jongkok di Indonesia, cuma bentuk kakusnya lurus dan panjang. Setelah berpisah dengan teman seperjalanan, saya menuju pintu keluar. Sampai pintu keluar terkejut, karena teman kuliah saya Nigak sudah menunggu kedatangan saya. Rupanya Nigak tadi mengirim pesan di FB bahwa dia tidak jadi menunggu di stasiun Tokyo, melainkan menjemput saya di Haneda karena takut saya terlambat mengejar kereta ke kota. Tokyo, Tadaima !

with Hiromi san


Syukurnya kami masih dapat kereta terakhir ke Tokyo, dan segera menuju rumah Hiromi san, teman kantornya Nigak di mana kami akan bermalam semalam. Kata teman-teman di Indonesia, hati-hati naik subway di Tokyo, jangan sampai nyasar, salah naik kereta dsb. Setelah beli tiket, masukkan tiket di mesin, lalu segera diambil kembali tiketnya, di ujung mesin yang lain, jangan sampai kelupaan, karena nanti tidak bisa keluar stasiun. Badan saya masih terkaget-kaget dengan suhu yang teramat dingin di Tokyo, syukurnya ada penghangat di bawah bangku di dalam kereta yang cukup hangat, menghangatkan tangan dan kaki yang telanjang karena tanpa sarung tangan dan memakai sendal saja. Sesampainya di stasiun dekat rumah Hiromi san, Hiromi san rupanya menjemput kami. Saya dibilang gila karena hanya pakai sendal jepit padahal udara dingin sekali. Kami pun mampir sebentar di mini market dan membeli makanan. Rupanya ada juga bapak-bapak pembeli yang cuek memakai sendal jepit saja :p. Apartemen Hiromi san mengingatkan saya pada film-film horor Jepang. Kecil dan catnya sudah kusam, wajarlah karena harga apartemen di Jepang cukup mahal. Namun karena ada penghangat ruangan, rasanya seperti di surga. Apartemen ini terasa sangat hangat dan nyaman sekali, dibandingkan udara dingin di luar yang menusuk hingga ke tulang sepertinya bisa membuat saya mati kedinginan. Apartemen sangat sederhana (ASS) di Jepang ya seperti ini. Ketika masuk langsung disambut oleh genkan ( space antara pintu masuk apartemen dengan tempat buka sepatu) yang tersambung dengan tempat cuci piring dan dapur kecil dan kamar mandi, meja makan mungil, lalu ruang tatami kecil yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga. Lalu ada pintu geser, yang merupakan pintu kamar Hiromi san dan suaminya yang ternyata sama ramahnya. Seperti kebiasaan orang Jepang pada umumnya, maka kedatangan kami di apartemen Hiromi san dan suami disambut dengan acara buka botol, dan melakukan kanpai, toast ala Jepang.


welcome drink, kanpai !

Wah tiba di Jepang dan disambut dengan ramah oleh native speaker, perasaan saya sungguh tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Setelah asyik mengobrol sampai dini hari, akhirnya saya tertidur pulas di dalam gulungan futon, kasur Jepang yang tebal dan hangat sekali selimutnya karena terbuat dari bulu angsa. Saking lelapnya, saya bangun kesiangan, Nigak juga tidak tega membangunkan saya, sehingga kami telat mengejar kereta paling pagi. Saat mau mandi rasanya malas sekali, walau showernya pakai air panas, tetap saja hawanya dingin sekali. Wah bakal jarang mandi nih selama di Jepang. Yang lucunya saking suramnya toilet di apartemen ini, ibunya Hiromi san sampai mengatakan bahwa dia tidak heran kalau tiba-tiba Sadako (hantu Jepang di film O ring) keluar dari toilet yang kecil dan suram ini, karena bangunannya sudah cukup tua. Selesai mandi dan packing, kami pun melanjutkan perjalanan dengan diantar naik mobil oleh suami Hiromi san sampai stasiun kereta terdekat. Terima kasih atas keramahannya ya ^^. 

Rencana pertama di Tokyo tadinya mau mengunjungi Istana Kaisar Jepang, yang katanya dibuka untuk umum, karena di setiap tanggal 2 Januari pagi, biasanya para keluarga kerajaan berdiri di balkon istana dan memberikan salam dengan melambaikan tangan kepada para rakyatnya. Namun karena saya terlambat bangun, akhirnya rencana ini di-skip, kami langsung menuju stasiun Tokyo, di mana saya akan menukar pass JR Shinkansen dan nitip back pack yang berat di loker koin 300 yen. Saya dan Nigak sama-sama bingung bagaimana cara memakai loker koinnya, sehingga menunggu orang lain mencobanya, lalu mengikuti caranya, eh ternyata akhirnya ujung-ujungnya malah ngajarin orang lain juga. Setelah itu kami bergegas menuju Tokyo Tower di dekat Hamamatsucho stasiun, karena takut kesiangan. Sebelumnya kami sempat singgah sebentar di Akihabara, melihat toko-toko elektronik yang menjual berbagai gadget canggih dari iphone 4S hingga ipad dan tablet versi terbaru. Persinggahan pertama setelah sampai di stasiun Hamamatsucho adalah gedung World Trade Centre Observatory, merupakan gedung observasi untuk melihat panorama Tokyo dan sekitarnya yaitu Tokyo Tower dan Odaiba, yaitu taman bermain yang sangat besar dekat teluk Tokyo. Kata teman saya lebih baik ke Odaiba daripada Disneyland yang lebih mahal tiket masuknya. Cuma karena keterbatasan waktu, saya skip ke Odaiba dan Tokyo Disneyland. Dari WTC kami lanjut ke arah Tokyo Tower. Kuil pertama saya di Jepang ternyata adalah Zojoji temple, yang lokasinya berdekatan dengan Tokyo Tower. Tadinya kami tidak berniat masuk ke kuil Zojoji, hanya mencari jalan pintas ke Tokyo Tower. Namun karena melihat banyak orang yang masuk ke dalam kuil, saya jadi tertarik masuk ke dalam kuil juga. Kedatangan saya yang bertepatan dengan tahun baru di Jepang, benar-benar terasa sakral sekali. Karena di setiap tempat yang saya kunjungi, banyak orang Jepang yang melakukan tradisi tahun baru yang bernama hatsumōde (初詣), yaitu mengunjungi kuil (shrine/temple) bersama-sama keluarganya di awal tahun baru, mendoakan supaya kehidupan mereka di tahun yang baru ini lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya (New Year wishes), dan meramal peruntungan nasib , jodoh, karir, kesehatan dan lain-lain di tahun yang baru ini dengan omikuji ( 御御籤, 御神籤, or おみくじ, http://en.wikipedia.org/wiki/Omikuji ), yaitu kertas ramalan yang dipilih secara acak dengan membayar antara 100-200 yen (tergantung lokasi kuilnya). Mereka mengunjungi kuil dengan memakai pakaian terbaiknya, dan banyak juga yang mengenakan pakaian tradisional Jepang dengan lengkap, yaitu kimono berwarna-warni yang sangat cantik, dan tebal sekali, karena bertepatan juga dengan awal musim dingin, sehingga memakai semacam jaket yang sesuai dengan kimononya. Libur tahun baru di Jepang dimulai dari tangal 29 Desember hingga 3 Januari, oleh karena itu selama saya di Jepang, dari tanggal 1 hingga tanggal 3, semua orang pergi berbondong-bondong ke kuil, saling mengunjungi sanak saudara dan membawakan hadiah tahun baru. Seperti lebaran di Indonesia saja suasananya. Setelah meminta foto bersama dengan para gadis Jepang yang memakai kimono yang cantik dan sangat ramah, saya pun turut ikut antrian yang panjang sekali demi membeli ramalan omikuji. Rupanya omikuji saya bernasib baik, saya mendapatkan kertas ramalan chūkichi (中吉) Middle Blessing, level dua dalam tingkatan omikuji, dari ramalan yang terbaik hingga yang terburuk, http://ninnaji.wordpress.com/2011/08/21/…) yang mengatakan bahwa peruntungan karir, bisnis, kesehatan, urusan asmara dan jodoh saya di tahun ini sangat baik. Namun teman saya Nigak, mendapatkan kertas ramalan omikuji yang kurang baik, sehingga dia harus buang sial dengan cara mengikat kertas ramalannya pada papan yang tersedia di depan kuil, lalu mengulang mengambil kertas ramalan yang baru hingga dapat ramalan yang bagus, namun sayangnya setelah dua kali mencoba , Nigak belum beruntung. Setelah masuk ke dalam kuil, kami pun melanjukan perjalanan menuju Tokyo Tower yang sudah terlihat dengan jelas dari Zojoji temple. Saat menuju Tokyo Tower, ternyata ada sebuah taman, namanya taman Shiba, di sana banyak terdapat pohon-pohon yang masih berwarna merah (Koyo), biasanya terjadi pada awal Desember, di mana peralihan antara musim gugur dan musim dingin. Cantik sekali pemandangan pohon-pohon berdaun merah ini. Betapa beruntungnya saya masih bisa menikmati peristiwa alam yang indah ini di awal musim dingin. Bahkan Hisataka san, sensei kami waktu di bangku kuliah di Indonesia, yang saya temui di Tokyo pada malam harinya, juga terkejut melihat peristiwa alam yang unik ini ketika saya tunjukkan fotonya. “Wah kamu beruntung sekali, sekali datang ke Jepang bisa merasakan 2 musim”, begitu katanya. Setelah puas menikmati keindahan taman Siba, kami segera menuju pintu masuk Tokyo Tower. Tokyo Tower yang tingginya 333 m merupakan menara yang dipakai untuk broad cast siaran radio dan sebagainya. Di lantai atas juga terdapat menara observasi untuk melihat sekeliling kota Tokyo. Ternyata panjang sekali antrian lift untuk naik ke menara observasi di lantai atas. Kok seperti mengantri naik lift ke tempat observasi di puncak monas ya, padahal saya yakin orang-orang ini pasti sudah lebih dari sekali datang ke sini, cuma kok tetap saja antusias mengantri dengan tertib untuk naik ke ruang observasi di atas. Bagi orang Jepang, tiap week end pasti wajib mengunjungi taman bermain, walaupun sudah dewasa, work hard play hard. Dan di lantai atas Tokyo Tower memang ada taman bermain, yang sepertinya untuk anak-anak saja. Akhirnya kami menyerah tidak sabar dengan antrian yang panjang, lalu naik tangga ke lantai dua. Ternyata dari lantai dua liftnya kosong, jadi tidak harus mengantri panjang-panjang, dasar orang Indonesia ya, nggak mau capek, akalnya panjang. Ke Tokyo Tower bagusnya siang hari, karena kalau malam nggak keliatan apa-apa. Hanya towernya saja yang bermandikan cahaya lampu yang cantik sekali, mungkin seperti menara Eiffel di malam hari. Sayang dari menara observasi tidak tampak gunung Fuji, karena katanya kalau bisa melihat gunung Fuji, itu adalah suatu keberuntungan. Di lantai bawah menara observasi terdapat kaca besar di lantai yang bisa diinjak untuk bisa melihat jauh ke tempat parkiran mobil di lantai dasar tower. Lumayan memacu adrenalin rasanya berdiri di atas kaca yang tebal dan melihat ke jalanan di bawah dari ketinggian seperti itu, lumayan untuk aksi foto gaya-gayaan uji nyali. 

Tempat selanjutnya yang kami kunjungi adalah Asakusa. Kalau menurut buku panduan yang saya baca, time has stopped here since the Edo period. Jadi Asakusa merupakan refleksi kota Tokyo tempo doloe. Di Asakusa terdapat Tokyo Sky tree tower dengan tingi 634 m, yang lebih tinggi dari Tower Tokyo yang cuma 333 m tingginya. Cuma karena belum selesai dibangun, maka cukup mengabadikan fotonya saja. Tidak jauh dari sini terdapat land mark yang wajib jadi objek foto juga, yaitu Asahi Breweries, LTD., bangunan yang menyerupai gelas bir, dengan buihnya yang berbentuk seperti emas di tugu monas, di atas gelas bir tersebut. Asakusa terkenal sebagai kota tua, maka kuil tertua di Tokyo, ada di sini, yaitu kuil Sensoji dengan landmark-nya gerbang Kaminarimon yang tersohor. Tidak jauh dari Kaminarimon terdapat Nakamise shopping street, yang menjajakan berbagai cindera mata khas Jepang mulai dari harga 300 yen seperti gantungan kunci maneki neko, patung kucing dengan tangan kanan yang terangkat seperti memanggil kita untuk masuk ke dalam toko. Banyak juga toko yang menjual makanan manis penganan kecil ala Jepang yang beraneka rasa dan bentuk, terbuat dari ubi manis, kacang merah, mochi dan lain-lain, mulai dari harga 100 yen, berbagai yukata ( kimono untuk musim panas) mulai dari harga 5,000 yen. Di Asakusa terdapat jinriksha, becak khas Jepang , yaitu becak yang ditarik dengan tenaga manusia yang berlari kencang. Tukang becaknya juga gaya dengan memakai kostum tradisional Jepang, kimono pendek hitam, celana pendek hitam dan sepatu hitam. Naik becaknya sih lumayan mahal, 3000 yen putar-putar keliling Asakusa, tapi untuk experience Japan, setimpal lah.


Kara age

Untuk kuliner, di sekitar Asakusa terdapat Yoshoniya (buat ukuran Jepang mah termasuk kategori warteg), warung soba, mie jepang yang tipis dan rasanya enak, harganya sekitar 600-800 yen (60-90 ribu rupiah), saya membeli kara age soba. Cara membeli makanannya, kita masukkan koin ke dalam vending machine (mesin penjual makanan atau barang lainya yang dimasukkan koin) sesuai harga soba yang kita pilih, pencet gambarnya, lalu keluar receipt-nya, kasih ke ojisan paman koki. Tinggal duduk manis menungu semangkuk soba yang siap disantap. Minumannya sih kalau air putih gratis dan boleh di isi ulang. Dingin-dingin makan mie panas-panas benar-benar nikmat sekali. 


Hachiko


Tujuan selanjutnya adalah stasiun Shibuya, di mana terdapat patung Hachiko, yaitu patung anjing yang terkenal akan kesetiaannya menunggu kepulangan majikannya di stasiun. Hingga akhirnya pada suatu hari majikannya meninggal terkena stroke di universitas di tempat dia mengajar, namun Hachiko tetap setia menunggu kepulangan sang majikan di stasiun tiap hari hampir selama kurang lebih 9 tahun, hingga akhirnya patung Hachiko diabadikan di depan stasiun Shibuya sebagai symbol kesetiaan. Antrian orang yang berfoto di patung Hachiko sangat ramai sekali. Di dekat Shibuya eki terdapat simpang lima yang sangat terkenal, dekat mall Shibuya 109, mall yang sangat terkenal dia antara para pecinta fashion, di mana ketika lampu merah menyala, maka jalanan segera diserbu oleh ratusan orang yang hendak menyebrang ke sana ke mari. Seru sekali melihat ratusan orang dengan style fashion yang keren-keren, bergerak dengan cepat ke berbagai arah dari segala penjuru jalan. Tidak heran banyak juga orang asing yang mengabadikan momen yang seru dan heboh ini dari ketinggian supaya dapat foto dengan angle yang pas. Sehingga akhirnya malah kami yang jadi pusat perhatian orang-orang yang hendak menyebrang jalan, karena manjat-manjat dinding yang tinggi lalu memoto mereka, dan rupanya mereka banci kamera juga, karena ada yang melambaikan tangan kepada saya minta di foto. Katanya sih kalau mau dapet spot dengan angle foto yang lebih bagus dari Starbucks di lantai 2 mall di sebrang mall Shibuya 109. Sayangnya karena mengejar waktu, tak sempat melipir ke sana. Hanya bisa melihat starbucks-nya dengan kaca etalase besar dan panjang, menggoda dari kejauhan. Karena sepatu gunung yang saya pakai kekecilan, hingga malah membuat kaki lecet, saya memutuskan untuk menyempatkan diri membeli sepatu boots yang murah meriah sekitar 1,800 yen di sekitar Shibuya. Setelah keluar masuk toko sepatu, akhirnya dapat juga boots yang sepertinya muat untuk kaki saya yang berukuran 41 di toko Asbee. Sebenarnya kekecilan juga sih, harusnya saya beli boots ukuran pria, karena lebih besar. Kaki wanita Jepang kecil-kecil rupanya. Setelah boots terpasang di kaki, kami segera menuju Harajuku. Harajuku shopping street bentuknya mirip toko-toko di pasar baru, Jakarta. Hanya gang kecil dipenuhi berbagai macam toko kecil. Saya segera mencari toko Daiso 100 yen untuk membeli sarung tangan, syal, dan penutup kuping yang warnanya mencolok untuk oshare お洒落 おしゃれ,, bergaya seperti layaknya para perempuan Jepang yang terlihat stylish dengan jaket musim dingin dan aksesorinya. Harajuku penuh dengan toko yang menjual pakaian dengan berbagai gaya, surganya para pencinta fashion. Salah satu yang terkenal di antara para gadis-gadis Jepang adalah Victorian style entah apa namanya saya lupa. Pakaian berenda-renda nan lucu dan imut, dengan harga bervariasi. Di Harajuku ada toko parfum yang harus didatangi karena menjual parfum ber-merk asli, dengan kemasan yang mungil, dari Bulgari hingga merk-merk terkenal lainnya, dengan harga 1000 yen ke atas. Selesai belanja kami pun segera bergegas menuju Tokyo eki, di mana kami janjian makan malam bersama Hisataka sensei dan juga Pragash, orang Srilangka, teman se-hostel waktu traveling di Singapura, kebetulan dia kerja di Jepang. Saya dan Nigak sempat nyasar di stasiun, sehingga terlambat datang dan sensei ngambek, tidak mau ketemu kami. Cuma karena nggak tega, akhirnya jadi ketemuan juga. Saya akhirnya malah mengajak teman-teman traveling saya , Pragash dan temannya yang orang Jepang, Kizuki san ikutan makan malam bersama sensei, untungnya nyambung semua, dan akhirnya kita semua malah ditraktir makan malam sama sensei. Arigato sensei ^^. Karena Nigak harus pulang kembali ke Shizuoka malam itu juga, saya pulang ke hostel sendiri. Lumayan panik juga karena belum tahu bagaimana cara naik subway menuju hostel tempat saya menginap di Tokyo Kabuki, Asakusa. Untungnya teman saya Pragash dan temannya, yang dikenalin (baca: dicomblangin) ke saya, mau mengantarkan saya ke hostel, sebelum mereka pulang ke Osaka (jauh ya). Ternyata letak hostelnya tidak jauh dari Kaminari mon, tempat yang saya kunjungi tadi siang. Setelah sampai di depan pintu hostel, si Pragash dan temannya pamit pulang. Setelah check in, saya segera masuk ke kamar yang lumayan nyaman. Sekamar isinya 4 bed mix dorm, kamar mandi dalam. Saya sempatkan online internet sebentar, nanya pass wifi hostel, karena ternyata nyaris tidak ada koneksi wifi di semua tempat yang saya kunjungi di Tokyo, dan ternyata di seluruh Jepang juga, karena semua orang punya iphone 4S, jadi tidak butuh wifi. Keesokan paginya saya harus mengejar kereta ke Kyoto jam 8 pagi, namun saya sengaja berangkat pagi-pagi buta supaya cukup waktunya kalau nyasar. Dan dimulailah drama nyasar di Tokyo sendirian bertanya ke sana ke mari mencari stasiun……

Ringkasan tempat-tempat yang dikunjungi selama di Tokyo : 
World Trade Center Tokyo : Tempat observasi melihat sekeliling kota Tokyo dari atas gedung tinggi Zojoji temple : Kuil dekat Tokyo Tower, kuil ini ramai dikunjungi oleah orang-orang yang hendak beribadah ke kuil pada saat tahun baru. Di sana jangan lupa antri beli ramalan nasib Omikuji, harganya 200 JPY.
Siba park : Taman di Tokyo Tower, Tamannya rindang, banyak pohon besar. Pas saya ke sana masih ada Koyo, di mana proses berubahnya warna dedaunan di pohon dari hijau ke merah (Koyo). Taman ini karena sangan bagus pemandangannya, maka sering dijadikan tempat nge-date dan sering dijadikan lokasi syuting.
Tokyo tower : Tiket masuk 600 JPY-820 JPY. Ke sini bagusnya siang hari, karena kalau malam nggak keliatan apa-apa, tapi towernya kelihatan bagus karena bermandikan cahaya lampu seperti menara Eiffel. Asakusa : Kota tuanya Tokyo 
Tokyo Sky Tree : Ini salah satu landmark terkenal di Asakusa, Tokyo. 
Kaminari Mon : Land mark terkenal di Asakusa 
Asahi beer building : Lokasinya tidak jauh dengan Tokyo Sky Tree 
Nakamise market shopping centre : tempat cari oleh2 dan makanan kecil khas jepang. Letaknya di dalam Kaminari Mon Shibuya eki : patung Hachiko, Shibuya 109 mall , mall paling terkenal diantara pecinta fashion 
Harajuku street : Cari toko parfum yg jual parfum ori dalam kemasan mungil-mungil, harganya juga miring 
Makanan Jepang yang murah cari Yoshinoya, Lawson dll. 



Khaosan Tokyo Kabuki Guest House, Asakusa : 3,000 JPY/Night

Yahoo 検索